Sunday, 11 February 2018

Donor Darah Yuk!

Betapa nikmatnya sehat! Tapi seringkali kita ga sadar akan itu.

Kita? Elu kaleeee~

Ketika badan sedang sehat, kadang kita lupa bersyukur atas nikmat tersebut. Sehat baru kerasa nikmatnya (biasanya) setelah dihantem sakit dulu. Mudah-mudahan kita selalu bisa mensyukuri nikmat sehat ini. Mensyukuri tentunya teu cekap ku amin, tapi yang terpenting memanfaatkan waktu sehat kita buat kegiatan produktif. Syukur-syukur bisa bermanfaat buat orang lain.

Salah satu kegiatan alternatif saat badan lagi dalam kondisi prima adalah donor darah. Syarat bisa jadi pendonor tentunya badan ga boleh dalam keadaan sakit. Berat badan, tekanan darah dan hb semuanya ada di rentang normal. Kalau lolos semua tes tersebut, 1 labu darah bisa disedot dari tubuh kita dan akan disalurkan pada yang membutuhkan.

Siapa tau darah kita ternyata bisa menolong korban kecelakaan atau orang-orang yang sangat membutuhkannya kan?

Saya jaman kuliah dulu tak asing dengan kegiatan donor darah karena bersahabat dengan Wida yang mengikuti ekskul KDD. Tapi lempeng weh ga pengen ikutan donor darah. Juga ketika mulai aktif di YPBB berteman dengan Ardi, relawan yang juga dulunya aktif di KDD. Tapi tetep juga lempeng.

Sampai pada suatu hari (di tahun lalu, 2017) di grup  Darma Wanita kantor Akang diposting akan ada kegiatan donor darah. Udah males banyangin "ini itu" kalo berkegiatan Darma Wanita. Tapi kegiatan kali ini sungguh terasa bermanfaat. Tapi niat tersebut ternyata belum terwujud. Pas hari H-nya ujug-ujug ga sehat. Ya mau ngapain kalo ga sehat, nanti cuma kebagian arisannya doang tanpa bisa donor darah.

Akhirnya cuma mantau grup menyaksikan keseruan kegiatan hari itu. Dari sekian orang yang ikut, hanya 3 orang yang lolos untuk donor darah. WUHU, makin tertantang untuk: besok-besok aku harus donor! Can pernah seumur hidup! Dan dari kegiatan darma wanita tersebut sampai ke realisasi rencana, ternyata lama lagi. Berjarak beberapa bulan. Oh sungguh hidup yang loba kahayang dan wacana.

Kegiatan dimulai dengan daftar dan nanya-nanya dulu ke petugas.

Informasi dan dan Pendaftaran PMI Kota Bandung

Lalu isi kuesioner. Pakai komputer di bilik-bilik. Lalu hasilnya diprint dan diberi kartu dan nomer antri.

Bentuk bilik beserta petugas yang siap membantu bila ada calon pendonor yang bertanya

Jamannya apa-apa pakai touchscreen

Lalu diperiksa dokter terkait tekanan darah dan berat badan. Pemeriksaan berada di ruang periksa. Ada 2 atau 3 kamar, jadi ngatrinya ga kelamaan. Dilanjut duduk cantik lagi untuk dipanggil periksa Hb dan golongan darah.


Sambil nunggu lalu sambil ngobrol. Angger dimana-mana teh ngobrol wae. Ngobrol sama bapak-bapak yang udah rutin untuk donor. Ngaler-ngidul sampai si bapak masuk ruang donor. Sejujurnya khawatir juga takut ga lolos syarat mendonor karena denger cerita beberapa temen,katanya suka ga lolos. Ditambah pernah kena darah tinggi sampai 140 pas lagi stres. Sampai akhirnya ternyata dipanggil masuk ke ruang donor. CIHUY LOLOS!

Dan rupanya sensasi donor darah tuh kaya gini ya. Nya kituweh~ Ditusuk dulu trus dimasukin selangnya dan lalu dipompa supaya darahnya kesedot. Dan banyak juga hasilnya! Ga moto karena dicarek gerak-gerak wae heheh.

Layar kontrol (berapa menit lagi proses berlangsung dll)

Lemes ga sesudah donor? Engga. Tapi walopun ga lemes, udah tersaji 1 paket makanan dan minuman supaya badan tetap bugar sesudah donor. Makanan bergizi, mulai dari bubur kacang, roti, telor dan susu. Tinggal kurang buahnya (ngelunjak kwkwkw). Oiya, ada kue mari juga di keler-keler dan tak lupa ditambah obat penambah darah.

Nyam~

Suasana tempat istirahat sambil makan-makan konsumsi yang tersaji dari dapur~

Begitulah dongeng berbagi yang bisa dilakukan saat badan dalam keadaan fit. Yuk bareng-bareng donor secara rutin!


Monday, 29 January 2018

Cemilan dan Puasa Medsos

Sekilas cemilan ini mirip parab ucing 🐱. Tapi yang ini parab manusia yg enak dicemil sambil nongton~





Kue bawang bikinan sendiriii. Bahannya sederhana dan tinggal ngikutin resep dari sini . Ikuti sampai sedetil "sekian sendok teh garem" dll, niscaya ga akan gagal. Dulu soalnya pernah bikin kue bawang, entah pake resep yang mana dan gagal. Bayangkan, nu kitu wae gagal. Payah pisan sianil.

Jadi milih resep pun perlu yg cukup detil terutama buat orang sejenis saya yang cuma mengenal rasa makanan tuh enak atau enak banget! Besok-besok kalau udah makin jago boleh kali ya improv-improv resep. Sejauh ini masih nyaman bolakbalik liat petunjuk dari resep.


Bikin cemilan sendiri ternyata bisa jadi kegiatan yang positif dan "mengalihkan" perhatian kita daripada mantengin timeline medsosan terus-menerus atau kepo akun hartes apalagi akun hosip. Mengapa demikian? 




Bikin peyek kacang ijo kaya gitu pun bisa abis waktu 3 jam 🐰🐰 .

Selain bikin cemilan, bisa juga kita ciptakan aktivitas di dunia nyata lainnya yang bisa bikin konsentrasi dalam jangka waktu yang relatif panjang sehingga kita cenderung anteng sehingga ga segitunya pengen bolak-balik buka hp.

Beberapa hari yg lalu ada member yang nulis artikel tentang puasa instagram di @1minggu1cerita . Yang pada intinya, dia sudah merasa dalam tahap kuharus-berhenti-instagram. Alasannya kurleb biar lebih fokus dan waktunya bisa dipakai untuk melakukan hal-hal lain yang lebih bermanfaat. Pilihan tersebut pernah saya lihat juga pada beberapa akun instagram. Dan beberapa balik lagi nginstagram. Bisa pakai akun yang sama maupun bikin akun baru.

Kalau buat saya sih, daripada maen puasa-puasa-an, lebih baik kita bikin atau lakukan aktivitas di dunia nyata. Atau coba metode pengaturan waktu macem pomodoro (saya ketuker mulu sama podomoro haha). .

Kadang, menenggelamkan diri dalam kesia-sia-an instagram gpp juga kayanya. Kita bisa dapetin hal menarik dan tak terduga. Diasikin aja asal ga setiap waktu~

Punya pengalaman seru terkait bikin cemilan, atau aktifitas alternatif lainnya dibanding puasa instagram? 

Sunday, 21 January 2018

Pagi, Kucing dan Bubur

Suatu pagi pukul 6:00,

SATU





2 ucing (budug) ini sarapan pindang dengan segutnya. Kebahagiaan mereka ternyata menjadi kebahagiaan seorang bapak pensiunan yang rajin olahraga di alun-alun Ujungberung.

Si bapak rutin marab ucing di lapang tersebut saat berolahraga. "Istri saya suka marah kalau pelihara kucing di rumah", begitu ujarnya. Dan menurutnya, memberi makan kucing itu seperti panggilan jiwa. Ada rasa bahagia di dalamnya.

Selain berolahraga dan kumpul dengan teman-teman sesama aki-aki tiap pagi, mengasihi kucing menambah kebahagiaan warga Bandung timur ini.



DUA




  • Teteh SPG: Mang, buburnya komplit ya. Mau coba minuman baru ini?
  • Tukang bubur: Mangga, disambelan teu neng?
  • Teteh SPG: Iya mang. Tapi ada kursi ga?
  • Tukang bubur: Duduk aja atuh di bangku. Gamau duduk di situ?
  • Teteh SPG: Pake kursi atuh mang, saya ga boleh keliatan makan. Kan lagi kerja. 
  • Tukang bubur: Mang, cik nambut korsi. Karunya ieu si eteh. Sina bari rada nyumput weh di jero daharna. 


Dan pagi itu hati terasa hangat. 

Wednesday, 10 January 2018

Berteman dengan Stres

Berteman dengan stres? Kaya gada temen lagi deh~
Tapi selain teman yang biasa ditemui, kita sehari-hari biasanya akan menjumpai stres. Sehingga mau tak mau kita perlu memahami stres.




Memahami dengan cara mulai mengenalnya sehingga bisa memposisikan stres dengan tepat. Bila kita sudah berteman dengan stres, bisa jadi kita bukan merugi tapi justru mendapatkan keberuntungan.

Wah, emang bisa?!? Jadi gini, menurut Kelly McGonigal   mengubah cara berpikir kita tentang stres membuat kita Anda dapat mengubah reaksi tubuh terhadap stres. Mengapa bisa begitu? Saat stres biasanya kita deg-deg-an dan bernafas lebih cepet kan? Deg-deg-an artinya tubuh mempersiapkan kita untuk beraksi sedangkan bernafas lebih cepat akan mengirim lebih banyak oksigen ke otak.

Bila kita memahami peran adegan-adegan reaksi tubuh tersebut, kita bisa memahami bahwa bahwa saat itu tubuh sedang bekerja keras untuk memberi kita kekuatan dan energi menghadapi tantangan.

Dan ini satu fakta yang menarik lagi tentang stres: stres ternyata bisa mengantarkan kita untuk lebih dekat dan berelasi dengan orang lain. Pernah ngalamin kondisi stres dan pengen dikelilingi teman/orang yang peduli pada kita kan? Itu memang reaksi alamiah tubuh. Tingkat stres pun akan berkurang drastis saat kita memanfaatkan waktu untuk membantu orang lain atau mendukung suatu gerakan. KEPEDULIAN itu kata kuncinya.

Etapi kita gausah minta banyak-banyak stres dalam hidup mentang-mentang udah mulai mengenalnya 👻👻. Tapi dengan 2 hasil penelitian tersebut, semoga kita bisa makin berteman akrab dengan stres menuju bahagia 😉😉

Lebih detilnya, mentemen bisa simak video tednya di bit.ly/bertemanStres




*pas udah diposting baru nyadar bahwa foto yang dipilih ko horor amet*

Saturday, 6 January 2018

Baru ke Museum Lagi!

Di tahun 2017 kemarin asalnya mau ikutan proyek #1bulan1museum. Lalu di akhir tahun dengan semangatnya pergi ke salah satu museum di Jakarta. Itupun ga sengaja. Sedang ada kegiatan fasilitasi dan di jalan yang sama ada museum. Menyelinap pas jam istirahat maksi dan di sananya juga rusuh, jeprat-jepret foto sana-sini karena untuk kepentingan liputan. Pas sampai lokasi pelatihan dan intip foto-fotonya ternyata WAKWAWWWW abu-abu semua. Ternyata memori abis boooo~ Udah, gagal bikin liputan dan sampai bulan Desember gak pernah ke museum lagi.

Bulan Desember kemarin akhirnya menyempatkan diri ameng ke museum. Dalam 1 siang bahkan 2 tempat sekalian. Ahahaha, mumpung ada kesempatan langsung ke 2 tempat kekinian yang orang-orang banyak foto di instagram yaitu Bandung Planning Gallery dan Museum Gedung Sate. Biar apa ke museum? Ya biar ameng weh ka kota dan penasaran aja macem apa tempatnya.

Info lebih lanjut tentang kedua tempat itu, kepoin aja langsung instagramnya dan di postingan kali ini tak banyak foto yang disertakan karena di acara ulin kemarin ga banyak foto-foto dan menikmati suasana aja.

Bandung Planning Gallery

Salah satu tempat foto yang instagramable di Bandung Planning adalah di tempat ini!

Bu Atalia aja sampai ada sesi foto kheuseus di area ini (Instagram @ataliapr)


Sebuah kubah yang setiap orang boleh nulis harapannya terhadap Bandung dengan media post it. Post it mah merk ketang. Nama generiknya apa ya? Selembar kertas yang di bagian belakangnya ada lem segaris sehingga mudah ditempel, dilepas dan dipindah-pindah.

Mengapa perlu bisa dipindah-pindah? Karena biasanya kertas-kertas tersebut memerlukan pengolahan lebih lanjut. Apakah segala harapan yang ditempel oleh pengunjung museum itu akan diolah lebih lanjut? Tanya aja sama pengelolanya 😉

Terkait post-it. Saya dulu kenalnya metaplan. Selembar kertas bekas (biasanya udah dipakai 1 sisinya) yang dipotong-potong. Biar apa? Biar ga ngambil kertas baru banget. Lalu ditempel pakai isolasi kertas biar bisa dipindah-pindah. Pada fasilitasi yang lebih "mewah" metaplannya terbuat dr karton berwarna. Pada era fasilitasi sebelumnya (berdasarkan dongeng) juga digunakan lem khusus yang disemprotkan pada kain sehingga kita bisa nulis-nulis di metaplan dan lalu langsung tempel di kain.

Kamu biasanya pake metaplan model apa? Dan mengapa?


Museum Gedung Sate

Gimana kesannya setelah mengunjungi Museum Gedung Sate? Yang langsung keinget tuh, adem karena ber-AC dan ada beberapa wahana yang interaktif. Etapi masih lebih banyak interaksi di Bandung Gallery Planning. Di sana layarnya kebanyakan touchscreen. Pas ke museum Gedung Sate, tiap ketemu layar, bawaannya langsung coba pencet-pencet, dikirain layarnya pada touchscreen juga 👻👻 .

Tempat yang sepertinya buat spot foto-foto (foto koleksi pribadi) 


2 tempat yang saya sebut barusan adalah contoh museum kekinian yang nyaman untuk dikunjungi. Tapi kenapa ya, walaupun udah didesain kekinian, rasanya tetep pengen aja didongengin sama pemandu. Kalo kaya di Museum Asia Afrika, kan emang ada pegawai khusus yang peranannya memandu pengunjung. Kamu ngerasain hal yang sama ga?

Tuesday, 19 December 2017

Kesan dari Partisipan Urban Social Forum

Ceritanya, hari sabtu kemarin saya datang ke acara Urban Social Forum. Bermula dari info kegiatan Forum BJBS yang dipublikasikan di grup whatsapp, saya lalu penasaran, sebenarnya acara apakah Urban Social Forum ini? Lalu buka instagram dan web-nya. Web-nya berbahasa Inggris. Jadi kepikir: ini kegiatan sebenarnya buat siapa? Diadakan di Bandung tapi kok web-nya berbahasa Inggris? (ternyata di hari H ketauan banyak bule dan orang negeri yang dateng dan ini acaranya hasil kerjasama jaringan internasional)

Lalu nengok-nengok instagramnya dan melihat: BANYAK PISAN panel dan pembicara yang ada di acara USF! Oke, mulailah gairah pengen meng-event tumbuh. Ini kebayangnya semacem reuni besar para aktivis angkatan lama dan pengenalan isu-isu aktivisme perkotaan ke aktivis atau orang-orang yang tertarik pada isu perkotaan. Dan saya menjadwal supaya di hari itu bisa pergi ke acara tersebut.

Di hari H,saya sengaja gak ikut isu yang biasa digeluti sehari-hari yaitu pengelolaan sampah. Tapi belok-belok ke bidang lain sehingga berharap mendapatkan wawasan baru. Panel 3 dan 10 adalah panel yang saya ikuti selain forum utama pembuka yang dihadiri oleh semua peserta. 





Sepulang ber-Urban Social Forum, saya jadi kepikiran. Orang yang dateng segitu banyak. Kira-kira apa saja motivasinya ya? Dan apakah harapan di awal terpenuhi dengan mengikuti acara akbar tersebut? Atau malah dapet banyak bonus ekstra berlipat ganda? 

Karena penasaran (gitu weh anaknya teh kepo) lalu saya cari di instagram, orang-orang di hari H USF posting dengan hastag #urbansocialforum dan #urbansocialforum2017 . Sengaja ga tanya ke orang yang kenal. Kan biar sekalian punya kenalan baru (angger wkkwkw) dan juga mendapatkan cara pandang baru. Dan berharap banget bisa dapet jawaban yang ajaib. 

Dengan metode nanya secara acak itu, bener deh nemu responnya cukup beragam dan posisi di kegiatan juga beragam. Asalnya hanya kepikir untuk tanya ke peserta aja, eh taunya nemu yang juga jadi moderator, relawan kegiatan dan juga pembicara. Kaya gimana kesan mereka terhadap acara USF? Ini dia ceritanyaaaa~


MUHAMMAD SOFIANDI  (kanan)



Sofian  datang bersama ibu dan kawannya ke acara Urban Social Forum. Informasi kegiatan ini didapatkan dari ibunya yang tergabung dalam grup whatsapp Komunitas KBS Bandung. 

Kegiatan ini dirasa mengesankan bagi Sofian yang baru pertama kali mengikuti kegiatan diskusi bertema persampahan. Kegiatan diskusi dirasa dapat mendukung apa yang sedang Sofyan lakukan sekarang bersama warga Kopo RW 7 yang ingin mewujudkan lingkungan yang sehat, bersih dan tanpa sampah.Setelah mengikuti panel bertema persampahan, Sofyan lalu mendapatkan kesempatan untuk berdiskusi santai bersama 2 pembicara yang dengan hangat memberikan masukan-masukan terhadap kegiatan pengelolaan sampah yang akan dijalankan di RW-nya.




ALMIRA YASMINE (tengah)
Almira cukup sering menjadi relawan untuk kegiatan di bidang seni dan desain. Kali ini, motivasi awal Almira gabung jadi relawan bagian acara untuk kegiatan USF adalah untuk mengisi waktu senggang ketika libur. 

Almira menyangka bahwa ini cuma forum diskusi atau seminar biasa, tapi ternyata dia menemukan banyak hal yang mencengangkan ketika masuk ke panel-panel! Satu yang membuatnya semakin mengenali realita kehidupan perkotaan dengan mengikuti kegiatan diskusi di panel 22. Panel tersebut membukakan mata bahwa ada sisi lain yang selama ini terabaikan yaitu rakyat miskin sebagai pemangku kepentingan yang ada di suatu daerah. Almira selama ini lebih menangkap tentang keberhasilan pemkot untuk membersikan sungai atau melakukan pembangunan keberlanjutan kota. Di balik itu semua ada kurangnya proses komunikasi 2 arah antara pemerintah dan rakyat. Yang rakyat miskin rasakan, pemerintah main gusur aja tanpa tahu kondisi masyarakat bahwa penggusuran memutuskan mata pencaharian dan tempat tinggal sebagai tempat berlindungnya.


SALAHADIN


Tujuan Adin datang ke Urban Social Forum adalah karena ikut penjadi salah satu pembicara di panel 15. Di USF ini, Adin bertemu dengan kawan-kawan lama, jaringan dan teman baru sesama pegiat kota. Arus informasi di dalam pertemuan formal dan informal terasa mengalir di acara tersebut. 

Harapan Adin terhadap USF selanjutnya adalah cukup seperti yang telah ada sekarang saja karena ini seperti ajang reuni diantara para pegiat. Pengembangan USF ke depan mungkin bisa berupa replikasi event ini di kota yang pernah disinggahinya, tentunya lebih berkonteks lokal dan punya kekuatan rekomendasi atas fenomena kekinian.



RAMAH HANDOKO (Kiri)

Diantara beberapa orang yang ditanya-tanya  terselip ada 1 orang pemerintahan ternyata!
Dia adalah Ramah Handoko alias Kokow salah satu pegawai di Direktorat Pendidikan dan Pelayanan Masyarakat KPK RI. Hadir di acara USF atas tugas negara karena para pegiat SPAK tahun depan akan banyak berkegiatan dengan KPK. 

Yang diamati oleh Kokow di acara ini adalah sebenarnya acara ini bisa banget jadi ajang semua aktivis untuk "unjuk gigi" tapi sayangnya di acara kemarin, para aktivitis tersebar di masing-masing panel sehingga kemungkinan malah pada ga saling lihat paparan yang disampaikan. 


Menurut Kokow, pada event USF ini terlihat bahwa isu antikorupsi masih belum banyak di buy-in oleh pegiat urban. Terlebih lagi dengan sistem panel paralel tersebut lebih mengkotakkan isu antikorupsi ke wilayah yang lebih asing lagi. Terbukti dengan dengan sedikitnya orang yang hadir di panel 13. 

Terlepas dari itu semua, menurut Kokow, USF adalah acara yang memiliki potensi besar dan akan lebih seru bila dihadiri oleh lebih banyak anak zaman now. Dan bonus dari kegiatan USF ini adalah Kokow mendapatkan ide untuk mengembangkan kegiatan komunitas dan jaringan antikorupsi di tahun 2018. 


ROZAK 

Dan saya baru sadar bahwa USF 2017 ternyata USF ke 5. Ngaku sebagai "aktivis" tapi bahkan gatau ada event gedenya para pegiat perkotaan. Saya mulai nyadar bahwa ini adalah USF ke 5 karena saya "nemu" alumni USF 1-4 yang bernama Rozak. Rozak sangat menikmati aktivitas setiap diskusi untuk menumbuhkan kepekaan dan mengutarakan ide-ide. Tapi sayangnya tahun ini dia batal ikut. Di tahun sebelumnya, Rozak menjadi pemateri untuk isu pemanfaatan ruang publik.

Sebagai alumni USF 1-4 tentunya Rozak dapat membandingkan format kegiatan dari tahun ke tahun. USF 1 ternyata bentuknya diskusi melingkar di bawah pohon. Semua ikut diskusi dan tidak ada pembicara, hanya ada pemantik di awal diskusi. Sehingga semua punya kesempatan diskusi dan menyampaikan ide dan pengalaman. Rozak berharap USF selanjutnya bisa lebih banyak lagi tema diskusinya, juga diskusi berjalanlebih aktif dan kreatif.   

Sunday, 26 November 2017

Vitamin Secukupnya

Lamaaaaa banget rasanya ga ikut kegiatan diskusi dan sejenisnya yang diadakan oleh komunitas. Ini pasti hiperbola sih. Pasti definisi "lama" itu gak sampai bertahun-tahun. Istilah yg biasanya digunakan untuk menyebut "ikut kegiatan" ini biasanya disebut iipenan. Plesetan dari "mengikuti event" tapi pake sisipan ala bahasa Sunda.

Nah jumat kemarin, saya mengikuti sebuah acara di tempat hits masa kini yaitu #dilokasi. Berada di area Dago, dulunya Walini dan letaknya di sebrang SMAK Dago. 




Awalnya memang ingin datang ke acara tersebut, tapi belakangan ini suka kelamaan mikirnya kalo mau iipenan. Mulai dari urusan "lama di jalan", hoream macet, susah pulang malem, ada-ada aja hal yang mendesak, sampai ke "males ah ujan". Tapi niat baik mah selalu wae ada jalannya, tibatiba mbak Mel ngajak jadi notulen di acara tersebut. Nah kan! Kesempatan ngikut acara bahkan dibayarr. Cukup banget buat ongkos di hari itu dan bisa traktirr makan swamik ikan bakar. Berkongsi dengan Jessis, yang juga udah niat datang ke acara, ahirnya kita 1 tim kembalii.

Acaranya talkshow yang gurih, renyah dan bervitamin. Asik aja denger diskusi tentang isu yg bukan keseharian digeluti. Jadi punya sudut pandang baru tentang PKL dan makanan. Beda loh rasanya nonton talkshow rekaman dan nonton langsung ada di TKP. Lebih berasa! Berikut ada kesempatan untuk bertanya dan diskusi, walaupun sedikit sih waktu yang tersedia. Eh ada lagi bonus lainnya, iipenan juga kesempatan ketemu temen-temen lamaaa. Dan kalau waktunya lapang, sebelum, sesudah dan pas jam istirahat bisa interaksi alias ngobrol-ngobrol. Nya kitu weh kalo hobinya ngobrol mah hehe. 


Demikianlah vitamin secukupnya yang menjelma menjadi kebahagiaan di suatu sore~