Sunday, 11 June 2017

Hanya untuk Kepantasan

Sehari sebelum mulai puasa, saya belanja ke sebuah supermarket. Hanya 2 item sesuai dengan kebutuhan. Makanya gausah nenteng keranjang. Saya dan suami seringkali beli ini itu di toko tsb. selain dekat, juga sekalian jalan-jalan.

Yang berbeda dari biasanya, antrian malam itu super panjang. sampai ke lorong-lorong. Nah karena panjang, ya bosen nunggu, ya gatau mau ngapain. Kalo gasalah, malam itu saya ga bawa hape. Mati gayalah. Tapi justru jadi nemu hal yang "menarik".





Pas antri, akhirnya terjadi pembicaraan sama seorang ibu-ibu yg antri depan saya. bla bla bla dan ujungnya dia tanya saya: "Kok belanjanya hanya 2 barang?" Ya saya jawab, memang butuhnya hanya ini aja. Pas saya amati lebih detil lagi, malam itu memang yang belanja banyaaakkk, isicbelanjaannya juga banyak. Makanya, orang semodel saya yang hanya nenteng 2 item barang, jadi terlihat seperti alien.

Si ibu ngerasa watir apa gimana ya, sampe nanya kaya gitu.

Pas pulang, saya cerita sama suami tentang obrolan sama si ibu itu. Saya nanya kan: "Emang aku segitu mengkhawatirkannya ya, beli barang 2 biji dan sampai ditanya sama si ibu?"  Dan swami menjawab dengan enteng: "Emang iya."

Hahaha, lalu saya makin merasa seperti alien. Ya abis gimana, kalo butuhnya 2 biji yamasa perlu beli banyak-banyak hanya untuk kepantasan depan orang lain.

Wednesday, 31 May 2017

Negara-Negara

Saat ini berbagai negara sedang dilanda kekacauan. Krisis terjadi di mana-mana. Semua warga negara panik karena berlomba-lomba untuk mengejar ketertinggalan yang terjadi.


Foto dari sini


Mengapa kondisi ini bisa sampai terjadi? Di awal-awal pendirian negara, sudah dirumuskan tujuan negara tersebut dan cara mencapainya. Tapi terjadi banyak kebingungan yang bahkan beberapa warga negaranya teu-bingung-bingung-acan. Waktu malah habis untuk mengerjakan hal-hal lain. Hal lain itu bukan tidak berguna, yatapi tak langsung berhubungan dengan tujuan negara tersebut.

Hal-hal yang dilakukan beberapa justru kreatif, seru, dan asik. Kegiatan menyenangkan tersebut dilakukan untuk mengisi waktu dan menghalau kebingungan yang samar-samar melanda.

Tau-tau terjadilah krisis di negara-negara tersebut. Pada waktu yang sama. JRENG!

Yang paling pusing adalahhhh orang yang dobel kewarganegaraan. Di setiap negara, dia perlu hadir untuk mengatasi kritis. Waktu untuk pindah-pindah antar negara saja sudah cukup menghabiskan waktu, menyita emosi dan perhatian. Belum lagi proses menyelesaikan aneka krisis dalam satu waktu. Orang-orang inilah yang akhirnya kepalanya hampir meledak, stres dan akhirnya berujung pengen-tidur-dua-bulan.

Wednesday, 24 May 2017

Pendidikan dan Sekolah

Pendidikan tuh harus selalu berbentuk sekolah ga? 

Sepengalaman saya selama 10 tahun kemaren di ypbb (kerja yg lebih banyak berupa belajar sambil maen, botram dan ngerumpi) dan ngikutin event-event-an, jaringan dan ekskul lainnya: JAWABANNYA ADALAH: PENDIDIKAN TAK SELALU BERBENTUK SEKOLAH. 

Justru kegiatan setelah beres pendidikan formal itulah yang jadi sarana pembelajaran yg serrrruuu! Seru pas lagi gembira + senang maupun kadang seru sampe hayang-syare-welah pas lagi nemu kondisi yg menantang. 

Foto dari sini


Termasuk dalam hal membangun relasi pertemanan dan juga dengan lawan jenis pun mengandung banyak pembelajaran di dalamnya #seriusan

Jadi: TONG SARAKOLA WAE KITU? 
Pilihan bebas itu sih. Tentunya tak ada yang sia-sia ketika seseorang memutuskan untuk menjalani pendidikan formal dan tak salah juga kalau seseorang memilih untuk tidak bersekolah tapi tetap belajar dengan jalan lainnya. 

Tuesday, 23 May 2017

Copas Grup Sebelah

Puasa medsos mungkin lebih gampang dari puasa wasap. 

MUNGKIN. Karena belum saya coba. 

Wasap: salah satu aplikasi yg menyihir sehingga bikin ateul pengen cek henpon wae. 
Mulai dari grup kerjaan yang bercabang-cabang, grup pertemanan, grup aneka ekskul dr tema botram sampai tema menulis, grup alumni-alumnian sampai ke grup keluarga. 

Foto dari sini


14? 16? 18, 20 ataukah 28?!? Entahlah udah brapa grup yg ada di henpon ini. 


Wasap pula lah yg akhirnya menjadi alasan kuat (atau entah diada-adain) untuk beralih ke henpon android dengan spek lebih tinggi. "banyak grup, heng wae" begitu alasan saya. Dan "wasapnya udah gabisa apdet lagi. Gawat nih". 


Grup itu kadang menghibur, kadang bikin bahagia, sering banget ngeluarin notif, kadang bikin pengen tidur-2-bulan, kadang bikin kebodohan terjadi karena salah chat di tab yg bukan dimaksud, kadang bikin semangat, kadang bikin kezel, sering bikin album foto dan video penuh bahkan-tanpa pernah-saya-tonton-videonya, grup kadang bikin tau info terkini, grup kadang bikin tau gosip terkini mulai dr gosip penting sampai yg ga penting, tapi yaaaaaa kadang ada masanya GRUPGRUP PENUH DENGAN COPAS DARI GRUP SEBLAH! 

Yang mostingnya terpercaya: biasanya dibaca. 
Yang udah diposting di aneka grup: ya dimaklumin aja. 
Yang postingannya pimatakeun: kadang sebel tapi ga bisa ngapa-ngapain, kalo lagi niat dan kebenaran admin grup tersebut maka langsung weh ngasi kartu peringatan, tapi kalo lagi hoream ngapa-ngapain yaudah antepkeun wehh kumaha maneh.



Monday, 22 May 2017

Plus Minus

Dalam hidup ini kita boleh memilih. Ada yang milih bersama dan ada yang milih tak bersama. 

Bila memilih untuk bersama, tentunya perlu potongan KEPENTINGAN yang sama dan hasilnya diharapkan menjadi kebahagiaan bagi banyak pihak. 

Potongan kepentingan yang sama itu bisa disebut TUJUAN bersama. Tujuan bisa tertulis ataupun tersirat. Bukan perkara itunya yang penting. Karena sesuatu yang tertulis kadang kenyataannya tidak selalu disepakati. Dan seringkali tujuan yang tersirat bisa diamini oleh semua. Yang penting adalah: setiap individu yang memilih untuk bersama, punya potongan kepentingan yang sama. 

Namanya juga potongan, pasti ada sisi kepentingan-kepentingan lain yang berbeda dari kumpulan orang-orang tersebut.

Apakah perbedaan yang ada itu bisa jadi NILAI PLUS? 

Kalau perbedaan itu bisa mendukung pencapaian tujuan tentunya BISA. Tapi kalau perbedaan itu malah berpotensi menimbulkan perpecahan, ya lebih baik kita abaikan saja dan jadikan perbedaan itu bab yang tak perlu dibahas dalam kebersamaan supaya tidak menjadi NILAI MINUS. 


Foto dari sini

Sunday, 21 May 2017

Perubahan si Robot

Robot biasanya selalu menjalankan perintah yang sama setiap harinya. Manusia bila bertahun-tahun sudah terbiasa hidup seperti robot, maka apalah artinya kebebasan berekspresi?!? Si robot saat diberi kebebasan, malah BINGUNG karena perintah yang dipelajarinya BERBEDA. Si robot perlu cara hidup baru untuk bisa bertahan dengan goncangan era kebebasan berekspresi.


Foto dari sini



Kebiasaan mengikuti perintah membuat si robot tak tahu apa yang sebenernya dia mau. Bahkan dia tak tahu bahwa dia bisa bebas untuk memiliki keinginan dan juga mengungkapkan keinginannya itu dalam berbagai bentuk ekspresi. 
Jadi, berilah si robot waktu untuk berubah! Mulai dengan memberikan kesempatan dia untuk mengamati ekspresi dari orang-orang yang sudah terbiasa memahami keinginan dan mengekspresikannya. Saat itu mungkin dia akan banyak diam. Biarkan saja. Dia sedang belajar secara perlahan.

Sambil sesekali berilah ruang untuk si robot untuk mulai bereksperimen mengungkapkan kebebasan berekspresinya. Mungkin akan terasa aneh buat si robot. Maka dukunglah dia. Dan yakinkan dengan sikap dan perkataan bahwa berekspresi adalah hal yang biasa saja. Mulai berikan juga pujian untuk setiap kemajuannya. Kasihan robot belum pernah merasakan diapresiasi. Yang biasa dia dapatkan hanyalah perintah yang selalu itu-itu saja.

Tunggulah dia untuk berkembang pada tahapan ini. 
Lama-lama proses tersebut akan menghantarkan si robot untuk lebih memahami apa-yang-dia-mau. Bila proses berjalan dengan mulus, selanjutnya si robot akan naik ke level yang lebih tinggi lagi yaitu dapat merasakan bahwa berekspresi merupakan kebutuhan sehari-hari. Layaknya kebutuhan makan dan minum. 

Saturday, 20 May 2017

Biarkanlah Mengambang

Beberapa hal akan bikin kita pengen teriak pada satu waktu! ARRGGHH

Lalu bikin pikiran kusut, rudet, gak mood buat ngapa-ngapain, pengen-tidur-2-bulan-aja-supaya-semua-cepet-berlalu, gak bisa tidur semalemam, mewek-mewek, atau bahkan terserang aneka penyakit psikosomatis.

Tingkat keparahan respon dari sebuah kondisi sangat tergantung dari kedewasaan kita dalam menyikapi kenyataan yang terjadi. Kondisi yang sama bila dihadapi oleh orang yang berbeda, akan menghasilkan respon yang berbeda pula. Kehidupan masa kecilnya, pengalaman yang didapat, pengetahuan yang dimiliki, tipe kepribadian dan tingkat kedewasaan akan mempengaruhinya. Ah, tapi ujung-ujungnya, tingkat kegeloan kita dalam menyikapi sebuah kondisi kayanya amat sangat tergantung pada: seberapa banyak EGO kita tersenggol!

Jadi teriaklah ARRGGHH bila ego kita mulai tersenggol. BIAR PUAS. Tapi respon selanjutnya beneran hanya diri kita yang bisa menentukan!

Hadapi atau ubah cara pandang kita terhadap kondisi tersebut. Atau biarkanlah mengambang dan mudah-mudahan sembuh pada waktu dan cara yang terbaik.


foto dari sini