Saturday, 24 September 2016

Makan Siang Bareng?

Siapakah orang yang paling kamu tidak sukai?

Teman yang kepo?
Bos di kantor yang kasi kerjaan ga kira-kira?
Temen kantor yang rese?
Temen sekolah yang suka pamer?
Mantan? ups
Saingan bisnis? 
Tetangga yang hobinya bergunjing?
Orang yang beda agama?
Orang kaya baru yang lebay?
Pejabat yang suka korupsi duit rakyat?
PNS yang (katanya) males?
Orang yang lebih bahagia dari kita?
Gubernur Jabar yang mukanya nampang di mana-mana?
Politisi yang (katanya) busuk
Saudara yang sudah lama tak jumpa?
.
.
.

Silakan tulis 1 nama orang yang kamu tidak suka tersebut dalam selembar kertas. Kecil aja, gausah besar-besar. Dan tulis, kenapa kamu tidak menyukai (atau bahkan) membenci dia.

SUDAH?

Oke, sekarang silakan menyimak cerita saya yang sepertinya akan simpel dan pendek sajalah~

Ada macam-macam reaksi manusia terhadap orang yang tidak disukainya. Ada yang dengan terus terang menyatakan ketidaksenangannya, ada yang lalu ribut tak berujung karena tak juga menemukan titik temu yang mencerahkan, ada yang lalu melawan dengan mengabaikan (misalnya kita berpikir: antepkeun wehhh, engke oge cicing | antepkeun weh, sina apalaeun sayah aral dll), ada juga yang diem tapi ngomongin di belakang, bahkan ada yang sampai ke tingkatan mencari sekutu (menghasut orang-orang di sekitarnya untuk juga turut membenci orang tersebut) dan masih banyak lagi reaksi-reaksi yang terjadi bila manusia tak suka terhadap orang lain. Reaksinya bisa sangat beragam tergantung pola relasi yang terbentuk.

Ada 1 ide cemerlang yang diungkapkan oleh Elizabeth Lesser untuk menghadapi orang yang kita tak suka itu dan rasanya cukup seru untuk dicoba. Ide ini mungkin sudah kita lakukan tanpa sadar. Atau dilakukan dengan bentuk yang berbeda, tapi memiliki peranan yang sama. Apakah ide tersebut? Untuk memahaminya, silakan tengok video berikut!

*video bersubtitle Indonesia bisa disimak di sini*




Ide tersebut adalah mengajak orang makan siang. Memberi makan pada orang yang kekurangan sudah biasa dan banyak dilakukan. Bukan saya menganggap enteng upaya tersebut. Beberapa komunitas sudah sejak lama melakukan upaya-upaya amal seperti itu. Beberapa kisah menarik tentang upaya tersebut bertebaran. Belakangan yang saya ikuti perkembangannya adalah ceritanya Ajeng (salah satu member #1minggu1cerita) yang melakukan Maparin Tuangeun. Ceritanya silakan cek di sini dan situ.

Tapi ide "makan siang" yang dibahas oleh euceu Elizabeth ini adalah sejenis upaya untuk mulai dan makin memahami pola pikir yang dimiliki oleh orang yang tidak kita sukai (pola pikir itu biasanya yang menjadi penyebab perilaku pikasebeleun yang dilakukannya selama ini) dan sampai pada akhirnya (mudah-mudahan) bisa memecah kebencian yang ada di satu atau kedua belah pihak.

Saya jadi ingat dongeng tentang Jokowi di masa dia menjabat sebagai walikota Solo. Saya lupa, siapa yang dulu ngedongeng tentang hal tersebut tapi dongeng tersebut cukup mengesankan. Akhirnya tadi googling di wikipedia untuk mendapatkan fakta tersebut:

"Program yang mencuatkan namanya selama menjadi Wali Kota Solo adalah pembenahan pasar dan pedagang kaki lima. Salah satu contohnya adalah pedagang kaki lima di Monumen 45 Banjarsari. Jokowi menggunakan pendengkatan nguwonke wong atau memanusiakan manusia sehingga tidak memaksa ataupun menggusur pedagang, sebaliknya mengedepankan dialog dan makan siang bersama agar pedagang mulai berani menumpahkan keluhannya langsung. Selain itu, dibuka pula jalur diskusi di mana saja, seperti di Balai Kota, warung, wedangan, pinggir jalan, hingga di Loji Gandrung.[9] Setelah 54 kali sesi makan siang bersama selama 7 bulan, pedagang mulai luluh dan Pemerintah Kota Solo mengistimewakan para pedagang yang bersedia pindah dengan membuatkan arak-arakan hingga ke tempat baru
Acara makan-makan yang dimaksud si euceu Elizabeth mungkin diciptakan suasananya supaya bisa mulai bikin orang mau ngobrol bebas dan bersuara. Nebak ajasih dari suasana yang terjadi saat acara makan siang rutin Jokowi dan para pedagang. Namun judul makan siang tentunya lebih asoy, kegiatan yang lebih dikenali oleh para pedagang, lebih santai pula dibanding judul "diskusi" atau "denger pendapat" atau "simposium" atau "FGD".

((((54 kali))))
itu memang warbyasakkkk sih!

Pantaslah bila bentuk relasi antara walikota dan pedagang mulai berubah dan berakhir bahagia. Ini rupanya salah satu contoh berhasil versi Indonesia untuk ide yang diceritakan oleh euceu Elizabeth di video yang telah saya bagikan.

Oke, sekarang buka lagi kertas yang sudah tertulis sebuah nama orang yang tak kamu sukai. Dan ajaklah dia segera makan siang. Jangan lupa bayarin tentunya :)



Saturday, 17 September 2016

Sabatical Year

Sejak mulai jadi partimer YPBB, saya tanpa sadar, mulai membuat diversifikasi aktivitas. Mulai ikut dan mengerjakan beberapa kegiatan baru dan mulai cari lingkar pertemanan baru juga. Kondisi itu makin menguat saat akhirnya saya memutuskan untuk akan resign akhir tahun ini (2016). Makin gelo deui jumlah "ekskul" yang diikuti dan dikelola. Ekskul tanda kutip maksudnya adalah aneka aktivitas dan hal-hal baru yang sedang saya jalankan. Hal baru bisa berarti beneran kegiatan/kebiasaan yang baru banget dijalankan tahun ini, bisa juga berarti kegiatan yang sudah mulai dijalankan 2-3 tahun terakhir dan tahun ini kegiatan tersebut makin cihuyy seperti si #1minggu1cerita.

Dampak dari banyaknya "ekskul" ini, saya mulai keteteran atur waktu. Puncak kegeloan itu berada di 2 minggu terakhir ini. Kegiatan padat dan saya ada di beberapa kota dalam rentang waktu tersebut. Ampuunn dah! Seru mah seru, tapi ada kerjaan yang jadinya keteteran. Lalu ujungnya setres, lalu ngahuleng gatau harus kerjain apa dulu dan berakhir dengan bikin tulisan curhat ini wkwkkw. Daripada ditagih mulu juga di grup #1minggu1cerita pleus buat manasin tangan juga untuk mulai ngoprek keyboard laptop lagi.

Jadi, banyaknya "ekskul" yang dijalani harusnya gak berujung dengan setres dan ngahuleng. Tapiii kondisi ini teh pasti ada kaitannya dengan buruknya manajemen waktu saya. Teuing seblah mananya, tapi lalu kepikir untuk cari video TED.com yang isunya berkaitan erat dengan isu manajemen waktu.

Daaaannn, sebagai orang yang cenderung perceiving (cenah hasil tes psikologi), saya lalu tersesat di belantara hasil searching. Malahan dapet video-video lain yang juga menarik. Terus ditontonin satu-satu. Terus makin ga digarap kerjaan hahahha. Tapi video yang spesifik cerita tentang manajemen waktu malah belum nemu.

Di dalam tulisan ini, saya mau menyuplik cerita menarik tentang sabatical year yang dipresentasikan oleh Stefan Sagmeister. Tulisan ini tentunya ada kaitan dengan manajemen waktu, tapi dalam perspektif yang lebih luas. Ceritanya begini: Stefan punya studio seni yang tanpa ragu dia tutup setiap tujuh tahun sekali. Mengapa? Karena dia memang sengaja menginvest 1 tahun full untuk melakukan hal yang berbeda sebagai penyegaran untuk 7 tahun selanjutnya. Waktu pensiunnya disebar. KEREN KANNNNNNNNN???



Pengen banget deh bisa kaya gitu. Kalo dikaitkan dengan kondisi saya, rasanya saya juga dulu mulai rada turun grafik semangat kerja di sekitar tahun ke 7. Sesudah itu mulai banyak terjadi drama dalam hidup. Mungkin karena gak punya kesempatan menjalankan sabatical year ini (hahahha, alasan).


Kenapa saya pengen bisa jalankan sabatical year? Karena mungkin itu bisa jadi penangkal segala "tantangan baru" yang saya rasakan 3 tahun belakangan ini. Saat kondisi dan tantangan mulai berubah, sayanya justru mungkin belum terupgrade untuk bisa menghadapi aneka tantangan tersebut. Mungkin kalo dulu pas 7 tahun kerja dan kemudian melakukan sabatical year di tahun ke 8, akan lain jalan cerita hidup saya hari ini. Meureun. Tapi tenanglah, setiap orang akan menjalani cerita hidup yang berbeda dan juga (harusnya) bisa mengambil hikmah dari setiap peristiwa hidup yang dijalaninya.

Balik lagi ke cerita Steffan. Dia sempat cerita tentang 2 kegiatan sabatical yang telah dilaksanakannya. Salah satu yang diceritakan panjang adalah saat di setahun di Bali. Iya Bali! Bali Indonesia. Dari aktivitas tersebut, dia melakukan hal-hal yang di luar pekerjaan rutinnya dan bukan hanya golar-goler berjemur di tepi pantai tentunya. Tapi menghasilkan karya nyata yang bisa bermanfaat bagi warga lokal dan terutama refresh hati dan pikirannya untuk menghadapi 7 tahun mendatang.

Seruuuuu!
Silakan tengok videonya di sini ya. Tentunya ada terjemahan Indonesia bila dilihat di website ted.com -nya.

Kalau sesuai standarnya Stefan, berarti saya udah kelewat 3 tahun yang lalu. Tapi tentunya tak mengapa kalau sabatical year ini saya baru jalankan di tahun ke 11. Ok, jadi siapa yang bakal sponsorin sabatival year saya tahun depan? 



follow: @1mg1cerita dan like page facebook

Friday, 9 September 2016

10 Fakta Ketika SMA

Tadi pagi, baru nomer saya di-add di grup SMA. Rupanya mau ada reuni beberapa angkatan sehingga di-invite lah sebanyak-banyaknya orang di grup tersebut.

JRENGGGGG! Alamat makin lemot aja nih kalo ditambah grup baru. Karena handphone yang saya gunakan ini, sepertinya sudah lelah didera berbagai cobaan. Dengan kapasitas yang minimum, tapi penggunaan yang warbyasak, dia seringkali hang dan entah berapa kali saya instal ulang #curhat #gapapalahYa

Grup terkait sekolahan ini cuma sedikit sih. Hanya ada grup SMP, grup SMA dan kuliahan (tapi khususnya grup SMP: hurung wae notifna sepanjang hari). Sodarasodari, itu baru bicara grup mantan sekolahan. Bila dijumlahkah dengan grup yang terkait kerjaan (yang mana sekarang saya lagi segala dikerjain) baik formal maupun informal + grup hobi dan grup rumpi, sudah tak mau lagi saya menghitung grup yang ada. Pokoknya totalnya sakses membuat handphone berada pada kondisi hidup segan mati pun tak mau~

Sebetulnya gabung di grup teman-teman sekolaha merupakan pilihan. Apalagi dengan kondisi handphone yang saya miliki, harusnya tak juga jadi prioritas memperbanyak lagi grup. Tapi diri saya yang terdalam (entah dengan alasan apa persisnya) malah membiarkan jumlah grup bertambah dari hari ke hari. Bahkan cukup banyak grup yang saya admini (teu insyaf-insyaf wkkwkw). Termasuk grup sekolahan ini. Alasan paling praktisnya: "biarin welah, asal hape masih kuat mah antep. Lumayan buat baca-baca kalo lagi iseng" Suka lalucu oge da postingan-postingannya. Hiburan aja sih. Alasan lainnya: grup dengan orang-orang baru yang bukan temen-temen "aktivis" adalah salah satu cara mempelajari gaya hidup orang-orang kebanyakan. Sekalian mempelajari trend. Ya seru aja sih bacanya. Alasan yang agak serius: "masuk grup supaya kalo kapan-kapan mau sebar info penting (terkait kakampanyean lingkungan atau event-event menarik) bisa. Ato sebenarnya cuma pengen sesekali nimbrung juga komen. Seiseng itulah.

Nah kan, malah cerita ke mana-mana. Mari balik lagi ke urusan grup wasap SMA. 
Saya belum coba lihat-lihat: siapa sajakah yang ada di grup tersebut. Sekilas tadi lihat sih, rupanya banyak membernya yang sama dengan member grup SMP. Alias eta-eta keneh geuning. Ya maklumin weh atuh, namanya juga besar di Cimahi. Dari SD, SMP dan SMA, kita udah kaya boyongan pindah rame-rame terus. 

Masa SMA katanya adalah masa yang paling menyenangkan. Benarkah begitu? Saya justru lagi berusaha nginget-nginget: apa saja yang terjadi jaman SMA? Tadi pagi, bahkan saya kesulitan mengingat: dulu saya kelas 2 nya 2 apa ya saat SMA. Saking lamanya dan ko kaya ketuker-tuker ingetan pas SMA dan pas SMP.

Berikut 10 fakta yang terjadi saat saya SMA: 

1) Saya punya kecengan abadi pas SMP sampai SMA. Ya ampun, bodor pisan ya. Susah move on gitulah. Padahal dianya sih kali boro-boro nyadar ada yang suka sampe segitunya. Buktinya dia mah kalem aja punya pacar pas SMA.Pas kelas ospekan, saya sekelas sama kecengan tersebut. Udah merah-kuning-ijo tuh muka. Salting teroos selama seminggu #die.  

2) Guru agama saya cunihin. Lagi mau tes ngaji lalu beberapa teman perempuan yang imut-imut, aya weh nu dijawil. Punten ya, bukan berarti guru selain agama lebih berhak untuk cunihin, tapi asa aneh aja gitu ya kalo guru agama teh cunihin *ieu meni bongkar aib guru*

3) Lulus SMA saya termasuk anak yang aneh karena gak ikutan corat-coret di baju seragam. Dulu kenapa ya? Yang pasti, saat itu saya merasa sayang bila baju tersebut hanya berakhir dengan coretan ga keruan. Dan akhirnya baju tersebut ditumpuk dengan baju-baju bekas saya lainnya dansegunduk udah pernah disumbangin. Mudah-mudahan beneran kepake. 

4) Saya bukan anak rohis, gak pake kerudung tapi untungnya kebawa pengaruh baik dari temen-temen rohis. Ada beberapa yang agak-agak rese sih (peace) tapi yang deket banget pas jaman kelas 3 SMA, justru ga pernah bawel nyuruh pake kerudung, ga pernah bawel nyurus sholat sunat, tapi dia selalu mencontohkan pleus menunjukkan akhlak yang baik, Yang beginian nih yang hasek. Ga usah banyak cingcong tapi bisa jadi teladan teman-temannya. 

5) Jaman SMA dulu punya gank (yang entah namanya apa) tapi yang pasti kita sering bareng pulang karena rumahnya berdekatan. Naek angkot bareng-bareng dan patunggu-tunggu saat mau pulang itu seru ya ngebayanginnya. Sekarang temen-temen di gank tersebut udah pada beranak pinak semua dan tak ada lagi yang tinggal di daerah Cimahi. 

6) Hobi ngobrol tuh rupanya udah dari jaman SMA. Saat main ke rumah temen, bisa berjam-jam ngobrol doang. Dan pas mau pulang, ngobrol lagi di gerbang lah. lalu alesan nganterin si temen ke depan lah, padahal etateh masih belum wareg ngobrol. Jadi mikir: dulu sebenernya ngomongin apa aja sih, ko sampe bisa berjam-jam ngobrol hihihi

7) Dari jaman SMA ternyata saya emang udah pengen tampak aneh. Di saat orang-orang ikutan bimbel di GO, SSC dan sebagainya ke Bandung, saya dan beberapa teman malah les di Batujajar. Itu bahkan udah gak masuk area Cimahi loh. Bela-belain macet naek angkot demi bisa les sama aa-aa ITB hahah. Tapi kelas kecil yang dibina sama aa tersebut (lalu saya lupa namanya siapa) rupanya membuat kami lebih serius belajar. Keuntungan lain sebenarnya: bayaran di les tersebut relatif miring dibanding kalau saya les ke Bandung belum lagi ditambah ongkos dan jajan yang lebih besar. 
8) Saya pernah beberapa kali minjem (tepatnya ngambil diam-diam) buku di perpus. Tapi ini bukan kegiatan kriminal! Saya tertarik dengan beberapa buku yang tak boleh dibawa ke rumah. Buku fiksi yang ada di rak buku guru. Jadi saya bawa diam-diam ke rumah dan setelah beres, buru-buru disimpan lagi di tempat awal. 

9) Saya pernah jadi seksi konsumsi saat acara perpisahan SMA nginep di vila. Saya tak bisa masak, tapi rasanya seru bantu-bantu urusan masak dan belanja buat puluhan orang selama 3 hari berturut-turut. Nama vilanya DonaDoni di area Cipanas. Rasanya kekinian banget kalo jaman SMA rame-rame nginep di villa sama temen-temen. 

10) JURUS! Dulu sempet terjebak ikutan ekskul yang ajaib dan serem yang berjudul: Jurus. Ampun ah, pokonya gamau ikutan lagi deh. Cuma bertahan beberapa kali latihan dan lalu kabuuuuurrr. Itu adalah ekskul ngolah nafas untuk bela diri. Tapi ada adegan buka aura gitu. Saat pelantikan, kita disalamin satusatu sama tetua dari gunung Slamet. Sejak saat itu, tiba-tiba langsung bisa bikin orang ngejengkang alias terpental. Langsung sieun bisi ada hal-hal mistis di dalamnya. 

Demikianlah sekilas dongeng jaman SMA. Masih banyak pisan dongeng-dongeng yang langsung kebayang, kapan-kapan lagi weh disambung karena setiap masa sekolah adalah pasti seru!


Tulisan ini dibuat untuk menjawab tantangan dari #1minggu1cerita dengan tema: Aku dan Sekolahku.



Sunday, 28 August 2016

Selamat Hari Minggu!

diambil dari sini


Selamat hari minggu :)
Apa arti hari minggu buatmu?

Denger kata "hari minggu" saya langsung kebayang cepat 2 hal yang mungkin bukan hal yang lazim dipikirkan oleh banyak orang. Karena pola aktivitas yang saya jalani pun memang rada beda sama orang-orang kantoran.

Seringkali dulu hari minggu jadi hari kerja. Di awal masa lulus kuliah alias tahun-tahun awal saya beraktivitas di YPBB, bukan hal aneh lagi bila saya cukup sering bolos dari acara nikahan temen dan acara seremoni sejenisnya. Mengapa? Acara sejenis beginian yang membuat saya bolos mulu.


Pelatihan Relawan Zero Waste Gelombang 2 2016. Dok: YPBB

Bayangin, di pagi yang masih tunduh karena kurang tidur (karena malemnya begadang ulin) dan cuaca lagi enak-enaknya pisan buat tidur atau tidur-tiduran di kasur karena gerimis, peranan sebagai fasilitator kegiatan menunggu di area Geusan Ulun ini. Dan dulu seringkali aktivitas sejenis ini berulang dan seringkali jatuh di hari minggu. Saya mencintai kegiatan ini! Segala keruwetan ataupun hal-hal adminstratif yang kadang menyebalkan langsung luruh saat bertemu dengan banyak orang yang matanya berbinar untuk mengikuti kegiatan. Bertambahnya teman-teman baru juga bisa jadi imbalan yang bisa membuat hati senang selama berhari-hari lamanya. Rasa hangat pertemanan dalam menjalankan aktivitas ini membuat saya bisa merelakan beberapa kesempatan datang ke acara nikahan temen. Tapi untungnya, kegiatan bersama relawan ini tidak selalu terjadi tiap minggu. Jadi tetap ada acara nikahan yang bisa dihadiri. Tak jarang ungkapan dari teman-teman seperti, "Anil soalnya sibuk terus sih, jadi gak bisa dateng wae" terdengar. Saya sih berusaha menjelaskan (entah dipahami atau tidak) bahwa sebenarnya gak segitunya sibuk juga. Hanya saja pola aktivitas dan ritme hidup yang berbeda membuat kondisi tersebut terjadi. Saya berkegiatan bersama para relawan di hari libur mereka yang kebanyakan jatuh di hari minggu. Hari lain (senin, selasa, rabu, kamis, jumat, sabtu) justru peluang untuk udar-ider lebih besar.

Itu makna "minggu" yang pertama buat saya.

Makna "minggu" yang kedua adalah DEADLINE!
JRENGGGGG

Mengapa demikian?
Saya bukan anak sekolahan yang punya banyak PR dan sepanjang hari males-malesan nonton TV sehingga minggu malam harus kejar setoran ngerjain PR. Tapi saya sedang mengikuti program #1minggu1cerita yang sukses untuk "memaksa" saya untuk menulis secara cukup rutin. Saya garis bawahi kata "cukup"  karena sesungguhnya saya masih anak nakal yang selalu membuat aneka alasan sehingga tidak benar-benar membuat 1 tulisan dalam 1 minggu. Dalam sebulan, aaaadaaaa aja bolosnya. Dulu hari setoran adalah hari jumat. Dan biasanya jumat malam adalah detik-detik yang cukup "mencekam" di grup wasap #1minggu1cerita. Mencekam karena takut ditagih atau ramai dengan berbagai alasan dalam upaya membuat pelegalan ketidaksetoran tulisan. Baru beberapa saat ini dipindah atas usulan kebanyakan member yang justru berlibur di hari Minggu. Hari deadline berpindah ke Minggu deh.


follow @1mg1cerita



Minggu adalah SETORAN!
Horeeeyyy ahirnya setorrr :)

Selamat hari minggu :)
Apa arti hari minggu buatmu?
Mari berbagi!

Sunday, 7 August 2016

#aktivasiZeroWasteKit


Semangat perubahan adalah sesuatu yang menular. Makin sering dilakukan dan dibicarakan, efeknya akan lebih besar dan menyebar ke orang-orang lain. Orang yang semangatnya sedang tinggi, akan membuat orang yang semangatnya sedang turun menjadi terpacu kembali. Posisi tersebut bisa berputar diantara sekelompok orang. Peranan berganti-ganti tetapi tetap tujuannya adalah semua untuk perubahan ke arah yang lebih baik.

Semangat perubahan tersebut dirasakan kembali pada pertemuan relawan edisi tahun 2016!
Perubahan yang dilakukan oleh setiap orang berbeda-beda jenis aktivitasnya dan juga level komitmennya. Tetapi kesimpulan yang saya dapatkan sore itu, semuanya sedang dalam level semangat yang tinggi. Dan itu bisa menjadi modal awal yang keren untuk terus konsisten melakukan perubahan.

Dimulai dari semangat Nurul yang punya keberhasilan gerakan #hariCuciGelasSedunia saat lebaran di rumah orangtuanya. Jadi begini ceritanya: saat lebaran, biasanya di rumah orangtua Nurul (dan pada kebanyakan rumah lainnya) disediakan AMDK alias air minum dalam kemasan. Sampahnya memang bisa didaur ulang, tetapi karena Nurul merasa bahwa mencegah sampah dari awal lebih baik, maka upaya yang maksimal dia lakukan di lebaran tahun ini. Dia membelikan gelas tambahan untuk berlebaran mengingat tamu yang datang ke rumah orangtuanya cukup banyak biasanya. Lalu semua tamu disuguhi air dalam gelas dan dia bergotong royong dengan keluarganya untuk mencuci gelas para tamu.

Tampak biasakah cerita ini? Saya sih merasa ini luarrrr biasa. Mencoba satu terobosan baru dalam keluarga dan hasil akhirnya berhasil adalah satu tangga menuju keberhasilan lainnya.

Semangat yang Nurul miliki ini bukan hanya pada satu aspek, tapi juga dia lakukan pada gerakan #aktivasiPembalutReuse ! Gerakan macem apakah ini? Mari saya ceritakan. Nurul sudah punya beberapa pembalut reuse. Tapi belum juga digunakan karena kepentok rasa kekhawatiran. Untuk yang sudah mulai mencoba pembalut reuse, pasti tau rasanya kan? Setelah bertahun-tahun terbiasa menggunakan pembalut biasa, pasti ada kekhawatiran ketika akan berganti kebiasaan. Tapi dengan semangat juang yang tinggi, akhirnya dia mulai berupaya rutin menggunakan pembalut reuse tersebut dan berhasil! Tingkat penggunaan belum sampai 100%. Tapi dia berada dalam tahap semangat untuk melengkapi kekurangan yang masih terjadi karena mulai merasakan manfaatnya. Selain mengurangi jumlah sampah yang dikeluarkan setiap bulannya, juga pembalut reuse bisa mengurangi iritasi katanya.

Nurul dan putranya Mumtaz


Semangat yang Nurul lakukan itu dibagikan ceritanya ke relawan yang lain. 2 orang relawan lain yang mahasiswa laki-laki jadi punya pemahaman baru tentang penggunaan pembalut reuse. Dan Ibu Rika jadi tertarik untuk menggunakannya. Niat bu Rika sudah ada, tapi belum derrr dilakukan dan semangat itu jadi nyala lagi setelah mendengar cerita sukses Nurul.

Bu Rika

Bu Rika selain kabita ingin mencoba rutin menggunakan pembalut reuse, rupanya sedang asyik dengan gerakan #aktivasiTakakura. Takakura sebagai pengompos sudah dia miliki. Tapi karena ini itu dan segala macem, sempat tidak dipakai. Dia menceritakan bahwa akhirnya dia menggunakan kembali takakuranya. Dan rupanya #aktivasiTakakura ini berbonus! Berbonus karena rupanya Bu Rika membuat kegiatan berbagi tentang pengelolaan sampah di wilayah rumahnya, Dari 6 ibu-ibu yang hadir, ada 1 orang yang serius ingin mengelola sampah organisnya menggunakan takakura dan langsung minta tolong dibelikan pengomposnya.

Para ibu-ibu emang semangat banget! Bukan hanya Nurul yang punya 2 kegiatan. Bu Rika pun punya keberhasilan lain dalam gerakan #kurangiTissueSampaiSetengahnya. Salah satu aktivitas yang membuat penggunaan tissue di rumah bu Rika adalah tangan anaknya yang sering keringetan. Bu Rika sekarang di rumahnya punya 16 buah sapu tangan yang terbuat dari 4 helai lap yang dipotong-potong. Biasanya pembelian tissue sampai 2 buah, dengan hadirnya pasukan tissue baru, tissue baru habis 1 buah pada durasi waktu yang sama. Asik kannnn?

Dari jajaran para lelaki, ada Alfan yang punya gerakan #sebarSemangatTumbler. Kebiasaan Alfan untuk bawa botol minum sudah dilakukan dari lama. Sehingga tantangan untuknya adalah mengajak teman-teman untuk juga menggunakan tumbler dalam keseharian. Dalam waktu sekitar 2 bulan, dia berhasil meyakinkan teman-temannya untuk menggunakan tumbler. 6 orang yang akhirnya mau. Pendekatan yang dilakukan tentunya lewat obrolan santai saat melakukan berbagai aktivitas. Kan namanya juga ke temen. Gak perlu formal-formal amat. Selanjutnya dia ingin menebar semangat ini ke lingkaran yang lebih luas lagi.

Alfan




#aktivasiTasKain dilakukan oleh Bayu. Bayu yang kemudian dijuluki "anak lingkungan" oleh teman-temannya ini karena sering bawa tumbler ke kegiatan kampusnya, sudah memiliki 3 tas kain. Tapi lagi-lagi, tas kain yang sakti untuk mengurangi penggunaan keresek ini belum digunakan. Dulu jarang banget menggunakannya, tapi sejak ditantang oleh tim YPBB untuk mulai mengaktivasinya, ternyata seru juga katanya mulai melakukan perubahan tersebut. Perasaan berhasil melakukan perubahan dan juga terdorong semangat dari Alfan yang sudah berhasil mengajak teman sepermainannya membuat Bayu ingin menebar semangat #aktivasiTasKain ke teman-temannya juga.



Perasaan berhasil dalam gerakan masing-masing ini mudah-mudahan menjadi energi yang terus meneguhkan komitmen #zeroWaste dari temen-temen relawan. Semoga pertemuan untuk saling berbagi cerita dan semangat ini pun bisa rutin dijalankan sehingga bisa menjadi semangat yang bertumbuh terus dan bisa menginspirasi banyak orang.

#aktivasiZeroWasteKit menjadi kata kunci di pertemuan sore tersebut. Jadi sebenarnya teman-teman relawan ini sudah punya perangkat untuk mulai mengurangi sampah dari awal.  Tapi perangkat itu pada nganggur belum digunakan. Misalnya pada contoh kasus pembalut reuse dan gelasnya Nurul, takakuranya Bu Rika, tas kainnya Bayu, dan tumblernya Alfan. Ada jarak ruang dan waktu untuk mewujudkan pengetahuan (dan kepemilikan barang) menuju perubahan perilaku.

Hayu mari kokoreh lagi di rumah masing-masig. Peralatan apa saja yang potensial bisa membantu kita dalam upaya pengurangan sampah dari awal. Dan mulai derrrrr aja digunakan. Dan nikmati sensasi keberhasilannya :) Itu bikin ketagihan loh!


Wednesday, 20 July 2016

Kopdar Berujung Rapat

Hari ini adalah hari yang impulsif. padahal tiap hari juga impulsif ;-)

Singkat kata singkat cerita, akhirnya sore ini ketemuan sama Phadli, salah satu admin dari grup #1minggu1cerita yang sehari-harinya tinggal di Sukabumi. Kebetulan hari ini dia ada aktivitas wawancara dan rapat di Bandung. 

Admin lain ga ikut karena pertemuan ini sifatnya impulsif tea dan tentunya karena dua admin lain memang tidak tinggal di kota Bandung. Guli tinggal di Bogor dan Rahyang kerja di Jakarta (saat ini bahkan sedang ada rapat gerakan rahasia intenesyenel di Filipin. Kurang gaya gimana coba tim admin kita ini). 

#1minggu1cerita sebenarnya belum punya rutinitas kopdar. Kopdar biasanya terjadi karena ada inisiatif membernya. Di minggu kemarin ada 2 kopdar. Pertemuan genk Bogor dan Bandung. Yang genk Bogor takada foto barbuk. Pada pertemuan genk Bandung (atas inisiatif Chika), saya ikut kopdar walaupun hanya sempat ngobrol sejenak dan icip beberapa potong pempek. Itupun nyuri-nyuri waktu di sela-sela rapat kerjaan.


Kopdar di taman Bagus Rangin (foto: Shelly Asmauliyah) 


Ini dia taman Bagus Rangin yang dikelola oleh Ibu Tini (foto: Phadli Harahap)

Hari ini tema pertemuan dengan Phadli saya rencanakan rada serius hehehhe. Mumpung dia lagi di Bandung, maka "jebaklah" untuk mikirin bareng si program #1minggu1cerita (kumaha wehhh memaksimalkan peran mah).

Tujuannya sih brainstorming program. Tapi cara yang dipakai, cara yang lagi trend belakangan ini. Pakai design thinking sebagai tools. Tepatnya wallet project (detilnya bisa intip di sini).

Sudah ada template standar yang bisa digunakan lengkap dengan petunjuk dan pewaktuannya. Yang pasti saya bukan ekspert pada metode ini tapi pernah pakai. Dan untuk membantu proses ini, tadi sore ngajak Jessis juga sekalian berproses. Mulai dari bantu jadi timer sampai ngajak juga dia jadi tim pemikir (pemaksimalan fungsi tea hahha). Sebenernya metode ini biasanya dipakai berdua tapi tadi coba berproses bertiga. Secara metode rada ga tepat kayanya, tapi proses yang dilakukan pakai metode ini membantu kita bertiga untuk berproses bersama.


Proses bertiga. Sambil makan-makan dan ngupi cantik :) (Foto: Dolly Isnawan)


Metode gambar ini membantu mengeluarkan ide-ide dan memperjelas ide kreatif tersebut (Foto: Dolly Isnawan) 

Begitulah kira-kira sekilas gambaran proses tadi sore. Dari kopdar berujung rapat. Maaf ya Phadli heheh.

Dari proses yang berjalan sekitar 1 jam tersebut. terlahirlah beberapa ide untuk mencapai tujuan:
"bagaimana meningkatkan motivasi para peserta #1minggu1cerita"
"bagaimana meningkatkan motivasi orang-orang di luar sana supaya tertarik mengikuti #1minggu1cerita".

Saya akan menuliskannya di sini supaya idenya tak lepas. Urusan pengerjaannya, tentunya nunggu saat yang tepat. Kapan coba ya? Dan cara yang tepat.  Pada intinya sih akan dikerjakan sesuai dengan kemampuan dan waktu yang tersedia dari saya sendiri dan tim admin lainnya.

List acak cepat:

Pemetaan minat: 
a) Form pendaftaran perlu ditambahkan beberapa hal. Yang terpetakan: aspek motivasi (kenapa pengen gabung? apa yang pengen didapet), minat (dikasi cek list bidang minat), kebiasaan berkomunikasi,
b) Informal: info yang ingin digali didapat dari obrolan keseharian (perlu lebih jeli mengamati) dan dititip pertanyaan tersebut saat kopdaran.

Pengelompokan member secara "semu": 
Maksudnya: setelah dapat info lebih jelas, akan lebih mudah membuat aktivitas-aktivitas yang sesuai dengan minat, gaya komunikasi dan juga motivasi gabung di program. Semu yang dimaksud artinya bukan tiba-tiba bilang bahwa aktivitas a ini khusus untuk yang punya minat di bidang x dll. Tapi justru data yang lebih lengkap tentang peserta akan membantu proses perancangan aktivitas.

Penemuan ciri khas #1minggu1cerita 
Dari proses pemetaan minat dkk itu akan membantu untuk melihat hal-hal apa yang banyak kesamaan. Itulah yang mungkin bisa "dijual" untuk jadi semacam ciri khas. Proses ini juga bisa melalui analisis SWOT sederhana.

Pertemuan rutin (kopdar)
Pertemuan rutin ini bisa saja diadakan dengan tujuan "pengen aja ketemu". Kalau orangnya gampang akrab atau emang niat utamanya berteman, tentunya prosesnya akan mudah membaur. Tapi untuk memfasilitasi grup lain yang mungkin bukan tipe-tipe seperti yang tadi disebut dan juga grup yang justru memang mencari "recognisi" rasanya kopdar akan lebih afdol bila dibuat dalam bentuk bedah artikel yang ditulis oleh salah satu peserta. Kopdar bisa dibuat beneran di darat atau bisa juga dibuat dalam bentuk kopdar via skype dkk.

Succes Story
Menjadi penting bagi orang luar dan orang dalam untuk mendapat gambaran: emang apa keuntungannnya ikut program #1minggu1cerita ini selain jadi rajin nulis? Salah satu aspek penting dalam program adalah: kelihatan koneksi dunia tulis-menulis dan dampak positif di dunia nyata. Mulai muncul sebenarnya dongeng-dongeng macam ini saat sekarang. Belum banyak, tapi ada. Itu yang kemudian perlu diangkat saat akan mempromosikan program.

Buzzer
Penting untuk punya member yang memang udah dari lahirnya ditakdirkan untuk seneng cerita tentang hal yang menarik buatnya. Tanpa diminta. Ada loh orang-orang semacam itu (contohnya saya). Orang-orang ini punya kekuatan untuk marketing program, biasanya temannya banyak dan media sosialnya selalu update. Dia punya kekuatan untuk mempengaruhi orang lain. Buzzer ini bisa tercipta secara otomatis bila emang #1minggu1cerita beneran menarik untuk dibagikan ceritanya kepada orang lain. Selama belum bener-bener "jadi" dan "sukses", perlu ada upaya khusus untuk mulai mengaktifkan para buzzer ini. Dalam waktu dekat, tentunya orang yang potensial dijadikan buzzer adalah para member aktif saat ini. Cara paling praktis yang sempat terpikir adalah: setiap member diminta untuk selalu mengetag minimal 1 teman (yang belum gabung di program) saat share tulisan yang disetornya.

Raport
Pada familiar kan dengan istilah raport?
Yang kepikir: ada media yang menunjukkan kinerja masing-masing orang. Tujuan utama #1minggu1cerita kan memang membuat orang-orang rutin menulis (untuk tujuannya masing-masing) karena saya sendiri merasa itu adalah kebiasaan penting yang perlu dibangun. Teman-teman lain bisa bergabung dengan alasan apapun, tapi kebanyakan sepakat dengan tujuan tersebu. Makanya pasti setiap orang akan bahagia bila mendapat angka real persentase dia menulis (dibanding jumlah minggu yang sudah berjalan). Juga penting untuk menunjukkan total efektifitas program.

Relawan 
Ini bagian penting banget dalam #1minggu1cerita yang mungkin bisa berasal dari member atau sekalian aja perluas dengan rekrut orang yang ahli di bidangnya dan bukan member. Untuk proses pencarian relawan yang cocok bisa dicoba gunakan jasa bantuan Indorelawan dan sejenisnya. Dan berikut beberapa peluang relawan krusial di saat ini:
1) relawan yang bisa mendesain aneka otomatisasi dalam proses pengelolaan #1minggu1cerita
2) relawan desain visual. Ini perannya bisa bikin poster promosi yang share-able ataupun template-template yang bisa digunakan berulang kali untuk aneka keperluan promosi.

Itu beberapa ide yang keinget dari hasil lihat coretan dan gambar -gambar tadi sore.

Siapa yang yang mau ikut aktif kembangkan #1minggu1cerita? Bisa kontak kami di 1minggu1cerita@gmail.com atau kontak saya di 081-320-375-404 (anilawati.nurwakhidin@gmail.com)


follow @1mg1cerita















Monday, 11 July 2016

Yuk Bersenang-senang :)

Kebahagiaan setiap orang bisa berbeda-beda sumbernya. 

Ada yang merasa bahwa: 
Kalau punya penghasilan dua digit maka dia akan bahagia.
Kalau punya pasangan yang cantik jelita dan ganteng maka dia akan bahagia. 
Kalau punya anak cowo maka dia akan bahagia. 
Kalau punya rumah di komplek yang elit maka dia akan bahagia
Kalau punya deposito 1 M maka dia akan bahagia
dan seterusnya
dan seterusnya

Tapi benarkah demikian? 
Cukup banyak orang yang punya hal-hal yang saya sebut di atas, tapi tetep aja merasa ada yang kurang dalam hidupnya. 

Jadi, sebenarnya apakah bahagia itu

Kalau cari pengertiannya, bisa didapat definisi yang bermacam-macam dan saya tidak akan membahasnya di tulisan ini. Sesungguhnya saya hanya ingin bercerita bahwa saat liburan lebaran kemarin, saya nemu 1 kebahagiaan kecil. Rasanya nyaman weh bisa keliaran di Gramedia. Tanpa keluarin uang karena emang gak beli apa-apa. Muter-muter dan ngeceng-ngeceng buku yang dirasa asik buat dibaca. Waktunya puputerannya hanya sekitar 1 jam, tapi rasanya seneng. Dulu aktivitas muter di toko buku cukup sering dilakukan. Dulu ada tradisi: minimal sebulan beli 1 buku baru. Dan juga pernah ada masanya: namatin buku di gramedia dalam beberapa kali kunjungan hehehhe. Itu biasanya karena pas lagi gak punya uang tapi penasaran pengen baca. 

Jadi, sesungguhnya rasa bahagia dan senang itu bisa didapat dari 1 hal kecil yang sederhana: melakukan hal yang berbeda dari keseharian!

Dari 1 rasa bahagia maka pindahlah ke rasa kebahagiaan yang lain! Hidup mah sesederhana gitu aja sih kayanya.

Lalu, dari sekian buku yang dikeceng itu, ada 1 buku yang kemudian jadi kepikir: POKONYA KUDU DIBELI SECEPATNYA. 

Dimulai dengan ngepoin akun instagramnya



Jadi makin kebayang dan jadi pengen beli. Ilustrasinya lucu-lucu dan kata-katanya positif dan kepikirannya: kayanya bisa buat nyicil numpukin rasa bahagia yang beda dari hari ke hari pakai cara-cara yang sederhana. 

Kesimpulannya: akhirnya beli buku aktivitas tersebut! Dan untuk menimbulkan rasa bahagia karena bisa dapet harga yang miring, belinya di Rumah Buku dong ah. Mayan, diskon 20% tea dan disampulin. 

Dan saya mulai dengan mengambil tantangan nomer 2 yaitu bikin Memory Jar: nulis hal yang menyenangkan yang terjadi setiap harinya di secarik kertas. Kertasnya lalu dimasukin ke jar alias keler. Wadah apa aja sih sebenernya tapi akan lebih baik wadah yang transparan supaya bisa keintip dari luar. 




Kata bukunya: dengan melakukan ini, kita bakal terlatih buat bersyukur setiap harinya. 

Mari dicobaaaa~

Di buku ini banyak tantangan-tantangan yang seru. Yang ga pake biaya ada, yang pake barang-barang yang udah ada di sekitar ada, ada yang sifatnya hanya modif dikit dari yang biasa dilakukan, ada proses bikin-bikin seseruan. Semua sifatnya ide kreatif yang bisa disesuaikan sama minat dan kondisi kitanya. 

Oiya, selain beli buku ini, nemu juga 1 buku di bazarnya. Terbitan lama. 2002. Meureun karena stok lama. Rasanya jaman dahulu kala pernah ngincer buku ini, tapi harganya kerasa mahal. Rupanya baru kebeli setelah bertaun-taun berlalu. Kalau si buku pink yang 365 itu sifatnya lebih ke buku aktivitas untuk bersenang-senang. Rasa bahagia yang kayanya bakal didapet dari buku yang satunya ini, lebih kepada rasa bahagia karena bisa belajar hal baru. 




YEAY! Mari berbahagia dan yuk bersenang-senang~