Monday, 21 January 2013

Hari ke 21: Memilih Jeruk

Pernah beli jeruk kan?
Biasanya langkah apa yang dilakukan?

gambar dari sini


Kalau di supermaket, langkah yang biasa dilakukan adalah:
1) milih mau beli jeruk apa. Ada yang jeruk-jeruk impor dan biasanya cuma ada 1 jeruk lokal yaitu jeruk medan. Pertimbangan yang dipakai biasanya terkait harga, selera, jejak ekologis (hanya akan dipikirkan oleh yang sudah ikut pelatihan keberlanjutan hehehe) dan juga kemenarikan tampak luar si jeruk.
2) kemudian ambil plastik (langkah 1 dan 2 biasanya bisa dituker-tuker)
3) konsentrasi di depan tumpukan jeruk untuk pilih-pilih jeruk yang paling bagus diantara yang ada. Kalopun sama-sama mulus, pasti aja reflek untuk cari yang paling bagus.
4) pergi ke tempat penimbangan
5) belanja-belaja yang lain atau langsung ke kassa.

Coba baca ulang langkah yang ke 3.

3) konsentrasi di depan tumpukan jeruk untuk pilih-pilih jeruk yang paling bagus diantara yang ada. Kalopun sama-sama mulus, pasti aja reflek untuk cari yang paling bagus. 

Ada proses memilih di situ. Padahal sama-sama jeruk. Dan juga kalau di supermarket sih, kualitasnya cenderung standar. Gak beda-beda amat. Yah sama-sama warna oranye, sama-sama mengandung vitamin C, sama-sama asem-asem seger. Tapi kita teteeeeeepppp aja milih-milih. 

Nah, kehidupan pun seperti itu. Ada proses dipilih dalam setiap langkah. Sama halnya dengan nasib si jeruk yang ada di supermarket.
Mau masuk SD pun ada tes dulu sekarang (di beberapa SD begitu)
Mau masuk SMP SMA juga sama. paling tidak orang dipilih berdasarkan NEM (sekarang apa ya istilahnya). 
Di kelas unggulan, orang pun akan dipilih, Pakai tes psikologi dkk
Mau masuk universitas jg samaaaaa. Sampai bela-belain aneka les supaya lulus tes di perguruan tinggi dan jurusan yang favorit
Mau kerja juga sama. Udah jangan ditanya lagi untuk bisa masuk PNS. Peluangnya kecil apalagi ditambah ada yang sogok menyogok
Kalau udah dewasa pun, ada proses dipilih lagi untuk jadi istri/suami orang
..........

dan lain-lain dan sebagainya. Proses dipilih itu akan selalu berjalan terus sampai jatah waktu hidup kita habis 

Tapi kan kita juga bisa memilih duluan? 
Mungkin ada yang bilang begitu. 

Tapiiiii berbeda dengan jeruk. Dalam kehidupan nyata, hal yang kita pilih tidak pasif. Dia atau suatu aturan main pun berhak memilih kita. Jadi untuk bisa dipilih dalam segala hal, kita perlu benar-benar pilih yang paling baik dan juga memantaskan diri kita untuk dipilih. 






Hari ke 20: Bukan Sekedar Nostagia!

Momen apakah yang biasanya mempertemukan kita dengan teman-teman lama? 

Makan bareng? Buka puasa bersama? 
Acara reuni angkatan? 
Outbond bareng? 
Tanpa sengaja bertemu di event salah satu teman? (misalnya nikahan)
Sama-sama ikut seminar terkait profesi?

Macam-macam momen yang bisa mempertemukan. Tapi kegiatan yang paling khas dari semua itu adalah ngobrol. Biasanya berisi tukar kabar tentang si ini dan si itu sambil mengingat masa lalu. Bercerita tentang kejadian-kejadian yang dulu sempat berkesan. Seputar itulah. 

Bila yang dikenang adalah saat-saat yang menyenangkan, rasa senangnya itu langsung kerasa. Kalau yang dibicarakan saat-saat yang ngebetein, yang langsung kerasa juga betenya. Ada juga yang lama gak ktemuan dan mengalami CLBK *cieee. Ada juga yang "pamer" (ini nih bagian yang paling bikin males). Ada juga yang kemudian jadi nemu celah kerja sama. 

Buat saya, acara reuni bisa juga jadi tempat pamer yang positif! Pamer gaya hidup yang ramah lingkungan tea heheeheh. Mulai dari melakukan aksi-aksi pribadi pengurangan sampah (bawa misting, tempat minum dan juga sampai di kondangan ketika bersama teman pun menggunakan peralatan-peralahan tersebut! Lihat ceritanya di sini). Sampai akhirnya di suatu acara buka puasa bersama 2011, dicoba diterapkan konsep Zero Waste Event. Karena kalau acara reuninya di luar, adaaaaaa aja sampahnya! Mulai dari tissu, sedotan, kadang juga gelas plastik jus, kadang juga kalau di foodcourt ada kemasan makanan yang dari plastik (seperti wadah sambel dari plastik sekali pakai dkk). 

Yeah, pada intinya tujuan dari konsep Zero Waste Event adalah berusaha supaya acara reunian gak nyampah. 

Penerapan konsep ZWE ini bukan hanya pada hari H saja. Temen-temen saya itu sudah disms konfirmasi supaya gak lupa untuk datang ke acara dan juga gak bawa tissu (tapi diganti sapu tangan). Pengadaan makanan dan minuman dikelola oleh saya dan 1 teman. Aktivitasnya mulai dari memesan makanan (termasuk brief ke produsen timbelnya), pinjam perabot zero waste (gelas, piring lidi dan sendok). Tapi tetap dibuka peluang juga untuk bawa makan sendiri. Asalkan tetap mendukung tema acara: sebisa mungkin gak bawa makanan dari luar yang nyampah. Saya buka kesempatan "konsultasi" kalau-kalau ada yang bingung: apakah jenis makanan yang akan dibawa nyampah atau enggak. 

Ketika hari H, memang ada sedikit kecolongan-kecolongan. Tapi tak apa lah, kan memang baru model perdana. Walaupun ada yang tetap bawa tissu, tapi teman saya itu sempat bilang: "Aduh maaf ya Anil, saya pakai tissu". Paling tidak, mulai ngeuh bahwa sebenarnya tissu itu adalah sesuatu yang perlu mulai dikurangi. 

Dan di hari H pada happy juga karena ada beberapa doorprize yang dibagikan (padahal dibeli dari uang iuran makanan juga heheeh) Tau kan, apa isinya? Pastinya perabot pendukung gaya hidup zero waste dong! Lupa lagi hadiah detilnya, kalau gak salah ada sapu tangan dkk. Yang murah-murah, tapi dicoba dimaknai dengan disisipi "surat cinta" yang menjelaskan penyebab doorprize itu diberikan. Misalnya begini:  
Sapu tangan ini bisa dipakai berulang kali (asal dicuci tentunya) untuk menggantikan beberapa peranan tissu. Misalnya untuk mengelap mulut. Kalau tissu kan sekali pakai, dan akhirnya nyampah deh. Kalau sapu tangan ini, paling tidak bisa dipakai 50 kali.  
Kemudian surat cinta itu dibacakan ke semua. Nyelip-nyelipin unsur kampanye-nya dimana-mana lah heheeh 

Acara buka puasa tersebut tetap berjalan standar. Mengenalkan cerita kehidupan masing-masing dan aktivitas ngobrol-ngobrol lainnya. Tapi mudah-mudahan (paling tidak) dalam seumur hidupnya, temen-temen saya pernah merasakan berada di acara reunian yang Zero Waste!

Sayangnya saya tidak mendokumentasikan pernakpernik di acara tersebut. Tapi cuma menemukan 1 foto barbuk nih! Lihat deh lingkaran hitam di pojok kiri. Berhubung tempat reuniannya kantor yang tidak punya banyak gelas, akhirnya dipakai gelas plastik yang bisa dipakai ulang. Pinjam dari YPBB. Sendok-sendoknya kalau gak salah pinjem dari rumah. 

koleksi Ati Kurniasih

Mungkin masih ada beberapa orang yang mengatakan, berpikiran atau tanpa sadar berpikiran: ngapain juga reunian kalau yang diomongin kebanyakan masa lalu? 

Hmm, kalau saya sih yakin bahwa hubungan silaturahmi perlu dijaga terus dengan siapapun. Termasuk dengan teman-teman yang jarang bertemu. Kalau bahasa agamanya sih, silaturahmi akan mendatangkan rizki. Modal sosial itu perlu terus dikembangkan. Itu menurut bahasa yang lebih umum. 

Dan yang pasti, dari contoh di atas, saya bisa menyusupkan kampanye gaya hidup zero waste di acara reunian tersebut :) 



Sunday, 20 January 2013

Hari ke 19: Rek Kitu Wae Hirup teh?

Untuk yang bukan orang Sunda, saya bantu terjemahkan judul tulisan kali ini dalam bahasa Indonesia ya :) 
Terjemahan bebas dari Rek Kitu Wae Hirup teh? = memang hidup lo mau gitu-gitu aja?

Kata-kata ini belakangan lagi trend diucapkan (di lingkungan temen-temen kantor) dalam obrolan dan becandaan. Dalam konteks tertentu, kata-kata tersebut memang cocok sekali menjadi pertanyaan serius yang bisa ditujukan pada diri sendiri maupun pada orang lain. 

PERUBAHAN merupakan kata kunci dalam proses kehidupan manusia. 
Manusia itu akan selalu berproses ke arah diinginkan. Dan cara berproses untuk masing-masing orang akan unik dan spesifik. 

gambar dari sini


Tinggal perkara: 
selama apakah seseorang berproses? 
sebesar apa energi dan sumber daya (waktu, tenaga, uang dll) yang dialokasikan untuk berproses? 
apakah cara yang dipilih untuk berproses memang sudah tepat dan strategis? 
seterampil apa orang tersebut berefleksi?
apakah orang tersebut cukup paham akan kondisi dirinya sendiri (tipe kepribadian, cara belajar, potensi diri dll) 
semendukung apa lingkungan sekitarnya? (teman/komunitas yang bisa mensupport)
dan salah satu yang saya baru ketahui belakangan adalah: sebanyak apa dan life trap apa saja yang diidap oleh seseorang. Life trap dalam bahasa sederhana ala saya adalah aneka jeratan di masa kecil yang kadang kita sendiripun tidak menyadarinya dan itu cukup besar pengaruhnya di kehidupan kita sekarang. 


Semua faktor itu berperan penting dalam proses perubahan. Bila proses perubahan tersebut ingin berjalan dengan maksimal, tentunya banyak hal yang perlu dipelajari sehingga (akhirnya) perubahan diri ke arah yang ingin kita capai bisa terwujud!

Dan harapan lainnya sih: moga-moga lama-lama pertanyaan Rek Kitu Wae Hirup teh? tidak akan muncul lagi :) 
*kecuali sebagai bahan becandaan hehehe

Hari ke 18: Lama Menuju Sore

Pernahkah merasa: gak betah dan gak nyaman ketika sedang berada di suatu kondisi atau di suatu tempat?
Yang ujung-ujungnya bikin "pengen pulaaaaannnng" ataupun rasanya lamaaaaa banget berada di tempat itu?

Saya pernah!
Tapi kejadian itu biasanya baru bener-bener kerasa mengganggu kalo kondisinya ekstrim banget. Kalau masih dalam batas wajar sih, sebenernya saya cenderung cukup adaptif.


Lama Menuju Sore

Istilah tersebut dulu tanpa sadar saya ucapkan dalam suatu obrolan dengan  temen
(hey, dimana dia sekarang ya? lama gak kontak *langsung cek dulu profilenya di Facebook)

Waktu itu saya bercerita tentang ketidaknyamanan yang dirasakan ketika berkesempatan tinggal sekitar seminggu di kawasan kumuh ibukota. Kawasan di mana kita bisa melihat sisi lain dari Jakarta. Kalau saya bukan hanya melihat tapi juga merasakan!

Panjang kalau didongengin detilnya, tapi salah satu yang saya ceritakan ke teman tersebut adalah bahwa saya  merasakan hari yang panjang di tempat tersebut. Mati gaya. Itulah yang saya rasakan selama kurun waktu tersebut. Juga sebenarnya cukup shock dan yang anehnya lagi adalah mendadak saya ingin pulang ke rumah. Dan mendadak merasa bahwa rumah saya ngangenin banget bangetttt dan mendadak saya ingin bertemu dengan orang-orang rumah dan teman-teman dan perangkat kehidupan saya lainnya. Kondisi seperti itu cukup jarang terjadi karena sebenarnya saya cenderung asik-asik aja bila bermalam di luar rumah.


Lama Menuju Sore

Itulah kata yang pas (dan emang real dirasakan) untuk menggambarkan aneka perasaan yang saya rasakan saat itu.  
Rasanya hari itu panjanggggg dan lambaaaat sekali ritmenya.

Setelah dipikir-pikir sekarang, rupanya perasaan lama menuju sore itu  muncul bukan karena peristiwa yang terjadi dan dialami. Tapi lebih ke: bagaimana saya memaknai peranan yang saya jalankan saat itu.



dicomot dari sini





Friday, 18 January 2013

Hari ke 17: Poster Jleb & Kreatif

Hal apa yang langsung kepikiran ketika melihat gambar di bawah ini?? 

gambar dari sini

Saya tambahin taglinenya nih sekalian.
Save the Orangutan. Let the Orangutan smile like a banana.

Apa yang sekarang kepikiran? 


Pas pertama saya lihat poster ini, langsung kepikir: Edan ini yang bikin poster kreatif banget!
Idenya keren pisan! Fungsi poster sebagai penarik perhatian dan juga penyampaian isu kena banget.

Mungkin ada temen-temen yang tanya: Emangnya kalau banyak orang yang lihat poster ini, apakah kemudian  si orangutan tiba-tiba terselamatkan?

Ya enggak seinstan itu dong! Tapi kalau tujuan dari poster tersebut untuk bikin orang mulai kenal isu, saya pikir memang sudah memenuhi fungsinya. Asalkan poster itu merupakan kepingan kecil dari satu gerakan kampanye yang komprehensif.


Ayo sekarang lihat lagi poster yang ini :) Apa yang langsung terpikir? 


Gambar dari sini

Kalau saya sih, langsung mikir: ini poster sederhana banget dan #jleb. Walaupun mungkin bisa dimaknai macem-macem juga berdasarkan paradigma si pembaca poster.

Kalau saya memaknainya begini:
Beda banget makna kata need dan want alias butuh dan ingin
Terus, yang diinginkan belum tentu yang kita dibutuhkan
Dan yang dibutuhkan sebenernya gak sebanyak yang diinginkan.

Dan, si poster yang sederhana dan kena banget ini, ternyata bisa dishare oleh banyak 524 orang di Facebook. Itu bukan jumlah yang sedikit!

*dan langsung deh kepikir: Apa kabar dengan aneka poster kampanye yang pernah saya buat?  Selalu "sirik" deh sama orang-orang kreatif yang bisa menyampaikan pesan dengan gaya yang asyik dan menarik melalui poster.

Wednesday, 16 January 2013

Hari ke 16: KUIS-KUISAN ] Nama Unik!

gambar dari sini


Bukan mau ngajak berenang atau mau masak ikan. Tapi, mari kita seru-seruan!
Yuk, saling berbagi 1 nama (SATU saja ya) temen kita yang nama panggilannya UNIK banget!

Caranya gampang!

Sebutkan:
- Nama asli teman kamu itu
- Nama panggilannya siapa
- Apa kisah menarik di balik nama panggilan tersebut.
Jawaban langsung ketik saja di bagian comment. Beberapa celotehan kamu yang asikasik dan seruseru akan saya sharing ke temen-temen lain melalui akun Facebook dan Twitter saya.

Oya, kalo pengen dimention di aktivitas sharing tersebut, jangan lupa berikan akun twitter &/ email Facebooknya di bagian comment juga ya.

Nama unik itu deskripsinya bisa macem-macem.
Bisa karena:
  1. Nama panggilan bener-bener gak nyambung sama nama asli dan bahkan orang lain sampai gak tau nama aslinya: misalnya namanya Ahmad Santosa tapi dipanggilnya Erik. Indri Widianti dipanggilnya Guli. Bener-bener kaga nyambung kan? 
  2. Nama panggilan pas jaman cadel kemudian dibawa-bawa sampai besar (tapi ini sih bukan unik, malahan standar ya?) : misalnya namanya Christine, tapi dipanggilnya sampe gede dan udah ibu-ibu: K-I-T-I
  3. Nama panggilan yang diberikan karena peran yang biasa dijalankan: misalnya seseorang itu akhirnya dipanggil Bunda sama semua orang
  4. Nama panggilan yang diberikan karena dirasa lebih enak nyebutnya. Misalnya nama aslinya Gun Gun Gunawan, tapi dipanggilnya Gundil. 
  5. Nama gaol yang terus dipakai pas udah gak jamannya lagi jadi anak gaul: misalnya panggilan Nyiemo untuk orang yang bernama Irma Indrayati. 
  6. Nama panggilan yang terinspirasi dari singkatan nama beneran: nama aslinya Cucu Hambali. Entah kenapa kemudian semua orang memanggilnya Kang Cuham. 

*Contoh-contoh yang diberikan, beberapa asli atau setengah ngarang! hehehehhe...

Ayo, mari berbagi panggilan-panggilan unik dari temen-teman kitaaaaaaaa :)

Tuesday, 15 January 2013

Hari ke 15: Somse - Lulucuan Lagu Sunda

Asalnya malam ini mau cerita istilah-istilah Sunda yang unik dan sudah mulai jarang dipakai.
Karena baru aja inget lagi dengan kata celeno.
Kata celeno ini rasanya dulu pernah dipakai waktu jaman sekolah. Arti yang sebenernya gak terlalu ngerti juga sih hahaha. Cuma kata celeno tadi, rasanya enakeun untuk diucapkan.

Nah, jadilah barusan searching arti kata celeno. Harapannnya ditemukan beberapa deskripsinya dan juga menemukan istilah-istilah Sunda lucu lainnya.

Eh! Yang ketemu malah celeno yang di luar negeri sana. Kalau gak salah sejenis wi-fi gitu.
Salah kata kunci berarti.
Kemudian pencarian dilanjutkan dengan kata kunci "celeno" "sunda". Apa coba yang terjadi?

Munculkan video klip lagu celeno!
O ow! Lagu naon etaaaaa?
Langsung diklik.
Euleuh, geuningan lagunya Doel Sumbang. Salah satu artis pop sunda.
Ah, tapi gak kenal lagunya. Langsung lah penasaran pengen denger dan nyimak lagu Doel Sumbang yang sempat kondang pada jamannya. Dan nemu lagu yang tak asing dan sempat menjadi kata yang trend yaituuuuu: Somse alias sombong sekali

Video klipnya seperti permainan kakak mia atau permainan orang kaya miskin. Ada 2 kelompok orang yang baris dan nyanyi-nyanyi gitu. Cukup menghibur dan menutup hari ini dengan segar hehehhe..

Warnai hari-harimu dengan lagu sunda-an. Selamat menyimak!

Somse alah meni somse, eneng meni somse, sombong sekali



Hari ke 14: Jadi, kemana Perginya Budaya #Reuse Kaca?

Pernah denger istilah tukang beling?

Kalau saya sih dengernya tahun-tahun dulu. Tukang beling adalah mamang-mamang yang suka keliling-keliling untuk cari botol-botol bekas dari kaca. Salah satu alat penukarnya selain uang adalah ciki kiloan. Tujuannya sih sepertinya untuk dijual lagi. Persisnya gimana? Saya juga gatau. Dulu kan belum kenal isu lingkungan, jadi ya gak sebegitunya penasaran juga dengan kelanjutan kisah si botol setelah diberikan.

Proses paling akhir pakai botol kaca di keluarga adalah saat beli sirop. Dan itupun jarang. Dilakukan bukan karena sadar lingkungan atau peduli isu kesehatan. Tapi karena gada pilihan sirop yang pakai botol plastik mungkin.

gambar dari sini


Trus yang sempat rutin di keluarga (sebelum 2008an), di saat orang-orang mulai meninggalkan kebiasaan untuk memakainya, kita masih beli kecap pakai botol kaca. Mungkin gak jadi aneh kalo kita jadi tukang baso ato tukang mie. Tapi kita pakai merek yang rada bonafid lah yaitu Borobudur.

Jaman saya masih suka dapet tugas belanja ke pasar: cara belinya adalah sbb:
1) dari rumah bawa botol kosong bekas beli sebelumnya. Dalam keadaan bersih dan kering.
2) Kemudian dibawa ke pasar.
3) Hanya 1 jongko yang masih jual kecap dengan cara tersebut yaitu di jongkonya tante telur. Nama yang aneh kan? Dijuluki demikian kayaknya karena telur yang dijual sama si tante (yang sebenernya udah ampir nini-nini ini) bagus-bagus.
4) Harganya cuma lebih murah dikit kalo gak salah, dibanding kalo kita gak bawa botol bekas.
5) Tapi saat itu saya mendukung banget aksi beli kecap dengan sistem tukar botol. Biar gak nyampah.

Nah, tapi sekarang kecap yang menclok di rumah, kemasannya udah dalam kemasan plastik refill tea. Belum nyempetin ngobrol lagi sama orang rumah kenapa jadi berubah kebiasaan.  Tapi mungkin juga sistem dagang kecap tersebut dan dengan merk itu emang udah punah. Kan, terakhir aja cuma 1 pedagang yang jual se-pasar Antri Cimahi!

Fenomena lain yang berkaitan dengan botol kaca, saya udah gak pernah denger lagi istilah tukang beling disebut-sebut. Yang ada, istilah pemulung dan lapak. Dugaan saya: si botol kaca ini kah murah banget, jadi males banget deh si tukang pulung jaman ayeuna ngumpulinnya. Harganya murah! Coba aja cek ke lapak/pemulung, pasti mereka sepakat dengan pernyataan saya tadi.

Dan tren: meninggalkan kebiasaan pakai botol kaca ini menyebar. Sekarang hotel-hotel dan tempat makan pun (restoran dan cafe) mulai jarang menyediakan AMDK berbotol kaca. Keterangan yang saya dengar, katanya si produsen AMDK yang paling kondang (si AQ*A) sudah tidak memproduksinya lagi. Entah apa alasannya. Nanti cari tau ah! .

gambar dari sini


Walah, padahal si kaca ini lebih ramah lingkungan dibanding plastik, lebih aman secara kesehatan untuk makanan (dibandingkan bila menggunakan plastik), dan bisa dipakai berulang kali pula.

Jadi, kemana Perginya Budaya #Reuse Kaca? 

Sunday, 13 January 2013

Hari ke13: Kangen #AlamiBumi !

Apa peranan alam buatmu?
Itu salah satu pertanyaan yang biasa diajukan di pelatihan keberlanjutan YPBB. 

Dan jawaban yang sering muncul (dari para peserta yang kebanyakan orang kota) adalah : untuk berlibur dan untuk dinikmati keindahannya. 

Siapa yang tidak senang kalau disuguhi pemandangan seperti ini? 

gambar dari sini

Jadi secara naluriah, sebenarnya manusia mengukai keindahan, termasuk keindahan alam. Dan sebenarnya menyukai alam juga. 

Kali ini saya mau cerita sedikit tentang salah satu kebiasaan di masa kecil yang berhubungan dengan pemandangan. Begini ceritanya: 

Ketika SD saya punya teman pulang bareng. Namanya Yulia. Setelah dipikir-pikir, dia adalah salah satu temen yang mewarnai masa kecil saya. Teman eksplor macem-macem hal. Salah satunya terkait pemandangan. 

Sepulang dari sekolah, di area alun-alun kami punya 2 pilihan: apakah mau nyebrang pakai jembatan penyebrangan atau tidak. Dan dalam beberapa kesempatan, kami memilih untuk naik ke jembatan penyebrangan. Kadang suka malas sih karena lebih cape dan juga suka ada pengemis. Tapi ada hal ajaib di atas jembatan penyebrangan itu!

Ada pemandangan gunung-gunung yang indah (indah menurut versi anak SD tentunya). Dan kita suka sejenak berhenti untuk menikmati keindahan tersebut. Rasanya asyik dan seru! Kalau gak naik jembatan penyebrangan, tentunya kita tidak akan bisa melihatnya karena terhalang bangunan-bangunan.

Sekarang saya bekerja di lembaga yang bergerak di bidang kampanye lingkungan. Mungkinkah (secara tidak sadar) kesukaan akan keindahan alam di masa kecil ini yang menjadi salah satu penyebab saya memilih jalur tersebut? 

Hayu ah menikmati pemandangan dan meng- #AlamiBumi !

*kangen sama kegiatan #AlamiBumi YPBB! , intip foto-foto kegiatan serunya di sana dan di sini


Saturday, 12 January 2013

Hari ke 12: Yuk ikut Belanja #ZeroWaste !

Belakangan ini, sering banget denger orang mengeluh tentang masalah sampah di kota Bandung.

"gak diangkat-angkat sampahnya, ampe ngebludag di jalanan"
"bau..hiiiii"
"ini sampah harus digimanain segini banyaknya?"
  la la la bla bla bla

Tapi kalo ngomongin masalah sampah, ujung-ujungnya akan balik lagi ke perilaku kita.
Kenapa begitu?

Karena si masalah sampah itu bermula dari perilaku si penghasil sampah. Siapakahh diaaaaa? Ya kita sendiri.

Jadi pembicaraan tentang masalah sampah akan sampai juga pada perilaku kita saat akan membeli barang, saat membeli barang, saat menggunakan barang, dan saat memperlakukan barang setelah tidak dipakai.

Tapi tenangggggg...walopun kondisi sekitar kita tidak kondusif, kita PASTI bisa melakukan sesuatu untuk turut menyelesaikan masalah sampah. 

Kita mulai dari tahap belanja yuk!
Yuk ikut Belanja ZeroWaste!

Bawa dulu stok kantong-kantong yang bisa dipakai ulang ah! Jadi acara belanja kita kali ini tidak menghasilkan sampah baru berupa keresek-keresek dan plastik-plastik.


untuk belanja bisa pakai tas kain/tas karung

Siap berangkatttttt? 
Lets goooo!

Di acara masak-masak, biasanya ada acara goreng-goreng kan? Kalau kita tengok di pasaran biasanya tersedia aneka macam produk minyak dengan aneka kemasan. Yang paling oke untuk pengurangan sampah yang mana cobaaaaa? Lihat dari kanan ke kiri. 



Kemasan gelas plastik, plastik bening dan botol hampir dapat dipastikan terbuang ke tempat sampah. Kecuali kalau kita rajin mencucinya (ih, susah kali ya nyucinya dan butuh sabun banyak) maka akan bisa kita berikan ke lapak untuk didaurulang. Yang paling juara pastinya adalah minyak berkemasan jerigen! Jerigen masih bisa dipakai lagi dalam waktu panjang karena tebal bahannya. 

Kita akan masak menu apa? 
Hmmm, saya usul ada menu tahu yaaaa..

Gimana ya cara beli tahu tanpa sampah plastik bening maupun keresek? Biasanya kan dikemas pakai plastik seperti ini. Hadeuh! Nyampah plastik kalo begini sih :(




Ayo semangat! Karena kita punya misting (kotak makanan) sebagai alternatif penggantinya! 




Jangan lupa masukkan si misting ini ke dalam tas yang sudah kita bawa :) 



Bumbu-bumbu jangan lupa! Wadahnya yang lebih kecil aja.  




Sepertinya kumpul-kumpul asik juga kalau sambil ngopi. 

Pakai kopi sachet? Owwwww tidak. Intip deh resiko ini itu nya di rangkuman #twitZW -nya @ypbbbdg di sini

Sekarang kita pilih saja kemasannya yang lebih besar. Si kemasan kertas juaras 1 sedangkan kemasan plastik tetap juara dua. Kertas kan masih bisa didaurulang. Plastik berkilau diapakah nantinya? Kebanyakan berakhir di tempat sampah!



Ada yang gak suka kopi? Ayo deh kita pilih teh yang paling bebas dari sampah. 

Saya pilihkan yang no 2 ya. 
Soalnya yang no 1 kan nanti sampah kertasnya banyak karena dikemas satuan. Belum lagi si kartonnya juga dilapis plastik bening. 
Yang no 3 lumayan oke sih. Teh tubruk kan bungkusnya ya cuma 1 kertas saja. Tapiiiiiii, itu kenapa coba produsennya "iseng" ngasi plastik? ckckckck 




Belanja makanan udah, bumbu juga udah, untuk minumannya juga udah. Eh, nanti kita bakal cuci-cuci piring. Jadi pilih kemasan sabun cuci yang terbesarrrr (kalo ada sih, beli yang lima liter.Tapi ya belum ada sih). 




Alternatif lain, bisa beli sabun cuci yang literan. Jadi kita bawa wadah bekasnya kemudian tinggal masukin sabun cuci dari galonnya. Emang ada? Ada dong! Ini contohnya :) 


foto koleksi Tini MF

Mari kita sudahi belanjanya ya :) 

Terbukti kan, dengan aktivitas belanja tersebut banyak hal yang bisa dilakukan. Mulai dari diri sendiri untuk mulai menyelesaikan masalah sampah :) 

Mari #ZeroWaste - kan acara belanja kita!

*Nantikan edisi selanjutnya: Yuk Dateng ke Makan-Makan #ZeroWaste !



Hari ke 11: Everyday is Wiken

Selama ini udah pernah denger (eh, maksudnya baca) nama Wiken Tanpa Ke Mall. Tapi kampanye persisnya belum pernah cari tau. Semangat yang saya bayangkan ketika baca nama tersebut adalah semangat ketidakbergantungan akan gaya hidup mainstream nge-mall.

Seperti yang kita tahu, biasanya ke mall identik dengan: banyak uang yang dihabiskan, interaksinya dengan alam kurang (karena semua mall kan di dalam ruangan - walopun ada yang coba mengkombinasikannya dengan taman dkk, tapi teteup weh tempat yang dominannya di ruangan), banyak orang di satu tempat, tapi satu sama lain tidak saling terhubung dll.

Nah, beberapa hari yang lalu tanpa sengaja saya ngintip video liputan aktivitas grup Wiken Tanpa Ke Mall di youtube..



Jadi tau deh gambaran umum tentang gerakan Wiken Tanpa Ke Mall :) 
Salah satu idenya adalah dateng ke suatu kampung dan kemudian secara sukarela menyediakan aktivtas foto keluarga. Si orang kampungnya dikasi pengumuman akan ada sesi pemotretan. Nanti hasil fotonya akan dikirimkan kembali.

Padahal mungkin sebagian dari kita bilang begini, "Apa istimewanya sih difoto keluarga?" Tapi itu jadi pengalaman berkesan untuk orang kampung dan juga menjadi pengalaman seru untuk si orang kotanya. Selain orang-orang kota yang volunteeran mengorganisir proses foto-foto, jadi panitia, jadi fotografer, terjadi pula jadi ada proses interaksi dengan orang kampung, proses bekerja di dalam tim, mengenal tempat yang sangat berbeda dengan tempat aktivitas sehari-hari dll. 

Seru! 
Saya melihat ini (kalau dibanding nge-mall) sebagai aktivitas memanusiakan kembali manusia. 

Salah satu komentar di dalam video ini bilang: 
"Yang menarik, pikiran ini dipelopori oleh kelas menengah sendiri yang selama ini dituduh menjadi korban paling agresif dari kebudayaan dan industri kapitalis kontemporer saat ini"

Kesadaran akan adanya "kesalahan" budaya nge-mall itulah kunci dari adanya gerakan ini.

Taglinenya: "di dalam wiken yang sehat terdapat weekday yang kuat." Tapi kalau kata saya sih (ini mikir bebas), akan lebih seru lagi kalau tagline tersebut lama-lama bisa berubah menjadi "everyday is wiken"

Okeh, apa ide cerdasmu untuk aktivitas wiken ini? 


*salah satu proyek mereka yang bisa didukung ada di sini. Akun twitternya: @wikentanpamall

Friday, 11 January 2013

Hari ke 10: Cangkir vs A-Em-De-Ka

Kayaknya enak nih minum kopi atau teh dulu ya :)
Nih saya suguhi temen-temen dengan secangkir teh hangat dulu sebelum tulisan pagi ini dimulai

gambar dari sini


Gimana rasanyaaaa?
*daya imajinasinya perlu tinggi untuk menjawab pertanyaan barusan karena susah euy ngirim teh hangat beneran pake media blog hehehe.

Teh hangat dan manis seringkali menjadi media yang pas untuk menemani kegiatan ngawangkong atopun membuka hari. Kalau kita bertamu pun, teh hangat menggambarkan keramahan tuan rumah. Kenapa kehangatan? Tuan rumah mulai dengan proses menyediakan air hangat. Kalau jaman sekarang tinggal cuuuuurr dari dispenser.

gambar dari sini

Tapi kalau kita mundur beberapa tahun ke belakang, masih banyak tuan rumah yang memang nyetok air hangat di dalam termos. Pastinya melalui proses pemanasan air sebelumnya (pakai kompor gas/minyak tanah). Harapannya, kapanpun tamu datang, selalu tersedia air hangat untuk menyuguhinya. Kurang niat gimana coba? heheh

termos jadul 

Akan bener-bener kerasa kehangatan tuan rumahnya juga bila teh dibikin oleh tuan rumah dan bukan atas jasa pembantu.

Heheheh, jadi pengen disuguhi teh hangat full service beneran deh jadinya.

Nah, ini kenapa saya tiba-tiba ngabulatuk tentang teh hangat dan juga sebagai sajian buat tamu? Saya balik tanya dulu nih:
Kapankan terakhir temen-temen bertamu dan diberi sajian teh manis hangat dalam cangkir? 

Kalau saya sih sudah cukup jarang. Yang paling sering (dan rupanya sedang trend) saat ini di ruang tamu sudah tersedia A-Em-De-Ka.


Tujuannya mungkin masih sama. Ingin tamu yang datang ke rumah dapat terlayani dengan baik. Prosesnya jadi sangat praktis. Gak perlu masak air, gak perlu punya termos air hangat, kompor maupun dispenser. Gak perlu repot-repot melangkah ke dapur dan gak perlu cape-cape cuci piring. Itu kalau bicara keuntungannya.

Apakah ada dampak negatifnya?
Sebelum ngobrol ke bagian itu, mau share dulu data bahwa konsumsi AMDK di Indonesia yang ternyata memang meningkat dari tahun ke tahun.

 dari sini

Dampaknya apa? Pastinya jadi banyak sampah dari kebiasaan baru ini. Saya sebut baru karena kalau dari pengalaman, jaman dulu kecil sih belum umum dilakukan. Kalau biasanya cangkir untuk menyuguhi tamu dapat dipakai ulang (dicuci-dikeringkan-dipakai lagi-berulang-ulang), gelas AMDK ini akhirnya berakhir di tempat sampah. Bisa dipakai ulang dulu sih, tapi ujung-ujungnya kalau sudah tidak bisa dipakai, akhirnya berakhir di tempat sampah juga. Bisa didaur ulang juga sih, karena memang kemasan ini diterima di banyak lapak.

Sehingga kebanyakan orang akan bilang begini: "Tapi kan gelas plastiknya bisa didaur ulang dan juga bisa dibuat aneka kerajian."
Ya ya ya..pendapat tersebut sah-sah saja.

Tapi reduce (alias mengurangi dari awal) merupakan prioritas pertama dalam upaya pengurangan sampah sebelum reuse dan recycle. Dan kalau teman-teman sempat nonton film Addicted to Plastik/Story of Stuff/The Age Of Stupid, mungkin temen-temen akan berpikir beberapa kali untuk (akhirnya) menyuguhi tamu menggunakan AMDK. Jangankan sampai proses daur ulangnya, saat pengambilan bahan baku plastikpun sudah menimbulkan banyak masalah. Minyak bumi. Iya itulah bahan baku plastik.

Mudah-mudahan penasaran dengan film-film tersebut :) Sedikit ulasan filmnya bisa diintip di sini dan sana.

Oke, selamat cari/download filmnya dan juga silakan memilih apakah mau menyuguhi tamu dengan Cangkir atau A-Em-De-Ka.
*jangan lupa sambil sruput teh hangat khayalan hadiah dari saya :)



Thursday, 10 January 2013

Hari ke 9: Segala yang Berawal Pasti akan Berakhir


Tulisan hari ke sembilan ini dikasi judul rada mellow: Segala yang Berawal Pasti akan Berakhir. Tapi tenanglah, saya tidak akan curhat galau heheh. 

Paling tidak ada 2 peristiwa yang mengingatkan saya terkait judul tersebut. 

Hari senin saya ngobrol sama Jessis (teman kantor). Awalnya tentang kerjaan. Dan seperti biasa, saya kan suka iseng memperhatikan hal-hal (yang kata orang lain) gak terlalu penting. Dan di status gtalknya dia tertulis: Austin and the Birds. Untuk diketahui, Austin itu nama anjingnya Jessis. Nah langsung deh saya tanyakan tentang mengapa dia menuliskan status tersebut. Kepo banget kan saya heheh. 

Dan dari nanya iseng tersebut. Jessisnya langsung bilang: 

Jessis: iya.... austinnya udah ga ada,nil....lagi minggu :(

Waduuuuuh! Padahal cuma iseng tanya tapi jadi serius nih urusannya. Yaudah terjadilah obrolan tentang kematian Austin si anjing yang udah 8 tahun dipelihara oleh keluarganya. Saya belum pernah merasakan kehilangan anjing. Kalau kucing sih pernah, tapi ya biasa-biasa aja lah, karena kucing yang dipelihara di rumah biasanya kucing kampung yang memang sering datang dan pergi. Tapi Jessisnya sampai bilang: 

Jessis:  makanya lagi males diem di rumah

Mungkin karena dia jadi inget terus sama si Austin. Katanya lagi, 

Jessis: biasanya ngerewong.... kalo pulang pasti minta disayang sayang.... sekarang pulang teh asa kumahaaaa.....

Dan dia sampai kepikiran begini: 

Jessis: Ga mau punya anjing lagi.... ntar keilangannya ga enak..

Wah, dari obrolah tersebut kerasa Jessisnya sedih banget. *nebak sih, karena ngobrolnya kan di gtalk. 

Trus nemulah gambar ini. Kalau saya kasi ke Jessis gambarnya, bisa-bisa dia malah mewek. Dari kata-katanya mempelihatkan kedekatan ikatan anjing dan pemiliknya.


gambar dari sini

Kesedihan adalah hal yang sangat manusiawi. Tapi seperti yang tadi malam @radixhidayat bilang: Segala yang berawal pasti akan berakhir. 

Ya ya ya. Peristiwa perpisahan akan selalu terjadi dalam kehidupan kita. Seperti halnya kematian Austin anjingnya Jessis dan juga bubarnya @salingsilang (yang beritanya saya baru tau) kemarin malam.


*tentang bubarnya @salingsilang bisa diintip di sini , sanamari, atau cek hastag #salingsilang. Berikut twit terakhir mereka: 
@salingsilang Kami Pamit Undur... | terima kasih atas dukungan dan kerja samanya selama ini. :)




Tuesday, 8 January 2013

Hari ke-8: Lari 5 KM? Oww Tidaaaaak!

30' alias 30 menit.
Itu waktu yang relatif pendek. Bisa juga dibilang panjang. Tergantung pada kondisi apa dan pada siapa. 

Apa yang biasa dilakukan orang untuk waktu 30 menit? Macam-macam. 
Ada yang kepo TL twitter, bisa nulis 1 artikel, ngomen di fesbuk, mandiin anak, nongkrong dan ngeroko, makan gaya santai, masak kilat, berkebun, baca beberapa lembar novel, ngobrol dan ngerumpi, naek angkot, beres-beres kamar, memandang langit, ke warung, bikin perencanaan kegiatan seharian, ngeliatin foto si dia, manasin mobil, maen game, bengong dan lain-lain. Bahkan sampai mikir: "Mau ngapain ya sekarang?"

Banyak sekali pilihan aktivitas yang bisa dilakukan dalam 30 menit. Pagi ini dari jam 5 pagi sampai stengah 6 saya pilih: LARI PAGI. Yeah!



Pastinya ini bukan kegiatan yang biasa dilakukan. Jam 5 biasanya saya masih tidur hehehe. Berhubung tadi malam tidur cepat, jadi saya sudah ON dari jam 4: 40. Langsung cepet-cepet sholat shubuh dan ganti kostum. Maksudnya pakai celana training, kaos panjang, kerudung + sepatu. Dan secara impulsif langsung lari dari depan rumah. Tepatnya sih bukan lari ya karena sekitar 40% perjalanan masih jalan kaki. Maklumlah gak pernah olahraga dan juga pemalas heheh. 

Sebenarnya udah lama niat. Memang sih niat baik itu dicatatkan sebagai ibadah. Tapi niat ini akhirnya menjadi semata niat. Ada aja halangannya. Memang belum terlalu niat sih sepertinya. Saya ngaku aja deh!

Ini badan cukup kasian juga. Aktivitasnya bulak-balik sama dan kurang gerak. Untung pagi ini benar-benar terwujud dan jadi kepikiran untuk merutinkannya. Mungkin nanti lah setelah beres mengikuti tantangan #30HariBercerita, saya akan bikin program pribadi terkait lari pagi. 

Oya, beberapa hari yang lalu sempat nemu 1 komunitas yang hobinya lari-lari. Bahkan ada jadwal lari malam segala. Belum cek detilnya banget. Baru intip-intip grupnya disini dan juga di TL akun twitternya @IndoRunners. Weits, ternyata nanti malem ada jadwal lari. Edan 5 kilo! Nih kalau yang mau gabung: 

@IndoRunners Bandung] Tuesday Night Run 1830 @ Cisangkuy, be there!

Entah pengaruh lari atau bukan, tapi pastinya pagi ini terasa begitu cerah ceriaaa!

Monday, 7 January 2013

Hari ke-7: (Bukan) Ide yang Mengapung, Mengalir dan Akhirnya Tenggelam

Salah satu hambatan tantangan dalam menulis adalah (ini kata orang-orang loh!) saat mencari ide tentang apa yang akan ditulis.

Sampai hari ke 7 ini sih, selalu saja ada ide-ide yang berseliweran di kepala. Dan ide tersebut kadang dibiarkan berlari-lari dulu di pikiran supaya berkembang jadi cerita yang seru.

Jadi pas nulis (tapi gak selalu sih), seperti tinggal merekonstruksi apa yang sudah dipikirkan sebelumnya. Tapi kadang juga, yang dipikir di awal beda hasil akhirnya dengan yang ditulis. Malah ada ide-ide baru dan suka lebih cerdas. Untung aja ada media tulisan, selain lisan dan juga pikiran.

Aktivitas saya pagi ini adalah ngangkot menuju kantor. Kali ini saya mencoba mengambil jalur angkot yang berbeda. Variasi sih tujuannya. Dan juga akhirnya saya asyik mengumpulkan ide-ide untuk bahan tulisan yang ternyata bertebaran dan sedang harap-harap cemas untuk diambil oleh si pengingat ide.

Jadi sambil bengong dan memperhatikan jalan+penumpang lainnya, saya terpikir beberapa hal yang sepertinya bisa jadi ide awal tulisan. Ini masih dalam rangka #30hariBercerita tentunya. Dan juga disponsori oleh akan adanya kesibukan selama seminggu penuh di pertengahan bulan Januari. Kesibukan tersebut mungkin akan bikin saya rada susah bikin tulisan. Jadi mau gak mau, kalau memang masih ingin memenuhi tantangan menulis tersebut, saya perlu nabung ide (kalau bisa sampai tahap draft) untuk minggu heboh tersebut.

Dan. Taraaaaaaa....
Ternyata terkumpullah 11 ide yang bisa jadi titik-titik ide yang bisa dikembangkan menjadi aneka tulisan.
Jangan-jangan selama ini cukup banyak hal yang bisa ditulis. Tapi karena gak dilist, akhirnya banyak ide yang mengapung, mengalir dan akhirnya tenggelam.

gambar dari sini


Jadi, masihkah ada (celah) alasan untuk bilang bahwa ide untuk nulis itu susah didapat?

*Beginilah rasanya jadi orang yang sensoris: perlu mengalami dulu secara nyata sebelum yakin dengan teori. Ide untuk menulis itu banyak, asal kita bisa menangkapnya dan juga mencatatnya. 



Sunday, 6 January 2013

Hari ke-6: Ternyata BISA Ngeblog (Lagi) !

#30hariMenulis. Itu tantangan yang saya temui di akhir tahun 2012.

Agak ragu untuk mengikutinya. Gak kebayang juga sih, mau nulis apa aja di 30 postingan. Saya hanya khawatir, jangan-jangan nanti saya malah menampilkan tulisan-tulisan galau gak penting yang akhirnya jadi nyampah. Apa kata fans-fans saya? *hahaha, mulai deh sok artis.

Kemudian saya mempelajari aturan mainnya dan juga ngintip para peserta yang sudah terdaftar. Eh, ada beberapa orang yang saya kenal. Makin beneran pengen ikutan. Apalagi mengingat bahwa saya udah lama banget gak ngurus blog. Bersarang laba-laba lah pokoknya. Padahal menulis itu penting dan membuat proses berbagi bisa dilakukan bukan hanya melalui budaya lisan saja. Tapi yaitulah susahnya, saya belum kembali mendapatkan "hidayah" untuk merutinkan kebiasaan menulis.

Akhirnya nekad aja daftar ikutan. Soalnya kalau mikir-mikir terus nantinya gimana-gimana dan takut kenapa-kenapa, saya yakin, saya gak akan ikutan hehhe.

Dan sampailah saya sekarang di hari ke 6 mengikuti tantangan tersebut!
Ternyata saya menemukan kembali keasyikan kegiatan menulis dan berbagi. Sebenernya pengen nulisnya tetep fokus di woro-woro dan mengajak orang untuk bergaya hidup yang organis (ramah lingkungan). Seperti yang dulu-dulu pernah dilakukan. Tapi pada hari-hari tertentu, idenya bukan tentang itu, jadi yaudah: apapun yang kepikiran, itulah yang dituliskan. Oya, dengan aktivitas menulispun, membuat saya mengingat kembali kenakalan saya di masa kecil heheeh. Kalau gak lewat aktivitas menulis, sepertinya peristiwa tersebut sudah saya lupakan.

Memang beda juga ya rasanya nulis di blog sendiri yang masih krik-krik sepi ini, dengan rasanya menulis di blog keroyokan (baca: kompasiana). Terlihat banget dari bedanya potensi tulisan tersebut dibaca orang. Kalau di kompasiana, cukup banyak lah yang baca. 160kali-an untuk tulisan saya yang ini. Karena tulisan tersebut sempat mejeng sebentar di halaman depan kompasiana (bukan HL sih tapinya) dan juga nangkring beberapa hari di highlight halaman Green.

Selain itu, tulisan tersebut juga saya sebar ke 3 grup facebook. Mungkin itu membuat beberapa orang kemudian melancong ke akun kompasiana saya. Selain meningkatkan jumlah pembaca (katakanlah mereka penerima manfaat dari tulisan yang saya buat), tulisan ini pun bisa memancing proses diskusi.

Dari situ saya mengambil kesimpulan (sementara) bahwa: kalau tulisan memang bertujuan untuk kampanye maka perlu disebarkan juga lewat aneka link media sosial dan juga dicopas ke kompasiana. Tentunya di media sosial bukan hanya dishare linknya tapi perlu dipikirkan prosesnya supaya orang memang tertarik dengan isunya.

Yeah! Moga saya bisa bertahan sampai hari ke 30 nanti. Juga mudah-mudahan tidak ada hari yang kelewat untuk nulis. Kemarin malam ketiduran, tapi sudah dibayar utangnya pagi ini. Kalau melihat aturan main panitia, hal seperti itu hanya boleh terjadi maksimal 5 kali (kalau versi anak kuliahan: berarti masih ada jatah bolos 4 kali heheheh. Tapi jangan sampai terjadi lagi lah. Jadi dobel-dobel nulis soalnya)

Sip, sampai bertemu lagi dengan tulisan-tulisan berkualitas berikutnya!
*moga bisa berkualitas dan mendatangkan manfaat buat banyak orang :)

Hari ke-5: Yuk Membuat "Kolase" Reuse dalam Hidup Kita!


Reduce, Reuse dan Recycle. Itu slogan indah yang sering kita dengar untuk kampanye lingkungan.Dan tiba-tiba saya inget sama lagu 3R keren yang sampai dibikin dalam berbagai versi. Kita intip dulu lagu-nya Jack Johnson ini yuk!

Dalam pelaksanaannya, apakah slogan ini juga indah untuk dilakukan?
Kali saya bahas bagian kecil saja dulu ya, terkait REUSE pakaian.

Coba perhatikan baik-baik gambar di bawah ini.


Orang yang di dalam foto tersebut memang hanya satu orang. Dia adalah David Sutasurya, salah satu aktivis lingkungan kondang di kota Bandung. Kalau penasaran pengen intip-intip, bisa juga tengok profilnya yang ditulis oleh bunda Maria Hardayanto (yang ini aktivis kondang juga di Bandung dan Kompasiana) di sini.

Sekarang perhatikan lagi baik-baik setiap baju yang digunakan David pada kolase foto di atas.
Nah kan, teman-teman bisa lihat kalau ternyata ada beberapa baju sama yang dipakai David pada kolase tersebut. Padahal foto tersebut dikorehan (dikorehan = dicari-cari) dari kumpulan foto tahun 2007an-2012.
Dari yang saya kenal selama ini (kurang lebih sekitar 7 tahun), David selalu menggunakan baju-bajunya sampai titik darah penghabisan.

Simak deh deskripsi menarik yang dibuat oleh Bunda berikut ini tentang David:
Direktur yang saya temui bertubuh tinggi, tampan, sama sekali tidak buncit, berpakaian bersih tapi sangat sederhana bahkan sudah tua hingga nampak lubang lubang kecil diatas pundaknya, berponsel kuno dan duduk lesehan, menuangkan isi pikirannya ke laptop yang terkadang harus digoyang-goyang ketika layarnya tiba tiba mati karena dia membeli laptop tersebut second-hand alias bekas pakai.

Kata-kata "hingga nampak lubang lubang kecil diatas pundaknya" itu memang benar-benar kenyataan!

Sumber baju tersebut pun, kebanyakan barang lungsuran dari saudara-saudaranya. Budaya lungsur-melungsur ini sebenarnya budaya yang umum kita terapkan. Tapi entah kenapa sekarang semangat tersebut mulai luntur. Prinsip reuse (gunakan kembali suatu barang) benar-benar David terapkan dalam keseharian. Pakai selama mungkin suatu barang demi untuk menghemat penggunaan barang baru, demikianlah prinsip yang dianutnya. Prinsip ini bukan hanya dia terapkan pada penggunaan baju saja, tapi juga pada barang-barang lainnya.

David adalah salah satu bukti nyata Reuse yang Bukan Sekedar Slogan. 

Pagi ini saya iseng narsis juga membuat kolase foto diri. Foto-foto ini diambil secara acak di rentang 2-3 belakangan pada berbagai kegiatan yang diikuti (1 foto mewakili 1 kegiatan). Dan pemilihan fotopun tanpa maksud memilih-milih yang lagi pakai baju/kerudung yang sama. Yang diambil adalah foto yang kelihatan jelas bajunya dan tidak perlu proses crop yang tidak terlalu banyak.

Yeah! Ternyata banyak baju yang sama. Baju hijau bahkan sampai ledeh/bladus + bagian tangannya sudah  meletek-meletek!

Moga saya pun bisa sekonsisten David dalam menerapkan prinsip reuse ini dalam keseharian. Kalau bisa sih lebih konsisten hahaha. Yuk membuat "kolase-kolase" Reuse dalam hidup kita!

*ucapan terimakasih khusus ditujukan kepada para fotografer (relawan-relawan hebat dan staf keren YPBB). Tanpa kerajinan kalian memotret event, 2 kolase foto ini tidak akan terwujud :)