Friday, 31 January 2014

Yuk Jadi Event Organizer NONTON BARENG film Trashed!

Yuk secara voluntary jadi penyelenggara (event organizer) kegiatan NONTON BARENG film Trashed!







Trashed: Visualisasi yang menggugah hati tentang dampak negatif dari masalah sampah. Tapi tidak cukup sampai di situ! Lebih penting lagi untuk melihat solusi-solusinya dan juga memetakan peran kita sebagai warga Bandung untuk mulai mengatasi persoalan sampah.

Bagaimana cara untuk menjadi event organizer kegiatan NONTON BARENG film Trashed di area Bandung dan sekitarnya? Mudah saja!

1. Calon pemutar film mengajukan diri dengan:
a) memberikan info:
- Nama Komunitas

- Rencana pemutaran (tanggal, lokasi, mitra, dst)
- Target audience
- Target jumlah peserta
b) mengisi form SURAT PENGGUNAAN HAK CIPTA Film "Trashed" (dapatkan di sini)
c) mengirimkan info dan form soft copy ke email 
bdg.cleanaction@gmail.com (belum menggunakan materai dan tandatangan) paling lambat H-5

2) Membuat penyepakatan terkait waktu pengambilan DVD film di point film

3) Penyerahan form hardcopy SURAT PENGGUNAAN HAK CIPTA Film "Trashed" yang telah diberi materai dan tandatangan s
aat calon pemutar film datang mengambil film

4) Tim akan bantu men-scan form tersebut dan mengirimkan via email ke pihak WWF sebagai pemegang hak cipta film Trashed di Indonesia.

5) Laporan dari pihak pemutar film diserahkan ke email 
bdg.cleanaction@gmail.com (pada H+3) dengan panduan sebagai berikut:
a) foto pilihan minimal 3 dan maksimal 10 yang meliputi: foto bersama, narasumber/fasilitator diskusi close-up (bila ada), narasumber dengan setting ruangan keseluruhan, suasana peserta secara keseluruhan, peserta yang membuat ekspresi menarik
b) liputan standar 5W1H (diberikan dalam bentuk link di blog/web). Contohnya seperti ini dan itu.
c) Memberikan presensi softcopy dalam format minimal seperti di sini

Presensi ini penting untuk memperkaya database orang Bandung yang memiliki pemahaman baru tentang masalah sampah dan solusinya. Diharapkan lain waktu bisa diajak lagi beraktifitas oleh komunitas-komunitas yang memiliki kampanye tentang sampah di Bandung.

7) Pemutar film diminta menyerahkan kembali DVD film ke point film maksimal H+3.

8) Tim akan mengirimkan hardcopy form SURAT PENGGUNAAN HAK CIPTA Film "Trashed" yang telah diisi oleh para pemutar film secara kolektif ke WWF.




CP: 

Baskoro Lokahita - 0896 557 34999
Point Film: Urban Centre Yayasan Pengembangan Biosains dan Bioteknologi | Jl. Sidomulyo No.21 Bandung 40123 | fb: YPBB Bandung | @ypbbbdg 

Jadwal Nonton Bareng


Tanggal
Tempat
Waktu
Event Organizer
Sifat Acara
Status
Liputan
22 Desember  2013
Museum Sribaduga
13:00-15:00
Earth Hour Bandung – Tian 08561201042
Terbuka untuk umum
Terlaksana

17 Januari 2014
Urban Centre YPBB, Jl.Sidomulyo no.21, Bandung, Indonesia 40123
15:30 - 18:00
YPBB – Ami 085624180354
Terbuka untuk umum
Terlaksana
1 Februari 2014
Wisma Bulog, Jl. Cilengsar Cipanas Cianjur
19:00-21:00
Tini - 08122456107
Tertutup untuk keluarga besar Gandakusuma
Terlaksana 






11 Februari 2014
Shafira Foundation16:00Tini - 08122456107Tertutup untuk PKK, Relawan Bdg dan Shafira FoundationTerlaksana




















































































Earth Hour Bandung (22 Des 2013)


YPBB (17 Jan 2014)


Keluarga besar Gandakusuma (1 Feb 2014)


Shafira Foundation (11 Feb 2014)

Tuesday, 21 January 2014

Hari 15: Idola Baru: Diébédo Francis Kéré !

Ada yang sudah pernah dengar nama ini?
Diébédo Francis Kéré

Atau pernah lihat foto orang ini?



Atau, pernah dengar nama negara: Burkina Faso?

Sebagai yang kurang gaul, saya belum penah melihat foto, denger nama maupun nama negara yang tadi disebut-sebut di atas.

Tapi setelah lihat video presentasinya di TED dan juga googling sedikit, dengan ini saya rekomendasikan bahwa: si bapak ini cocok pisan untuk jadi idola baru!

Mengapa?

Cerita lengkap dan mempesonanya silakan lihat di video berikut:



Kalau video yang diatas terasa menyedihkan (karena anda tidak begitu paham bahasa inggris seperti saya), silakan lihat di sini. Pada link barusan, bisa diset ada transkrip dan subtitle bahasa Indonesianya.

Kalau mau baca-baca lengkap tentang sepak terjangnya bisa lihat di webnya.

Si bapak ini adalah seorang arsitek. Tapi bukan arsitek biasa. Ini beberapa hasil karyanya. Dan sebagian besar bahan utamanya dari TANAH LIAT.






Yang bikin keren adalah bukan hasil akhir bangunannya!
Tapi proses pembangunannya yang memberdayakan masyarakat sekitar. Bangunan ini dibangun bersama-sama dengan dipimpin oleh si bapak Francis di sebuah negara yang menurut Bank Dunia adalah salah satu negara termiskin di dunia.

Pembangunan ini dilakukan setelah Francis lulus sekolah di "kota" sebagai arsitek. Bersekolah sampai menjadi arsitek adalah hak istimewa bagi Francis. Bagaimana itu tidak istimewa? Di kampung tersebut (pada jamannya), bahkan tidak ada bisa sekolah setinggi itu selain Francis. Saya tidak katakan bahwa satu-satunya kesempatan belajar adalah melalui pendidikan formal, tapi bersekolah di "kota" sedikit banyak memberikan warna inovasi di dalam diri Francis.

Cita-cita Francis begitu jelas dari kecil yaitu: "ingin memberi kesempatan yang lebih baik bagi anak-anak lain di Gando. Saya ingin menggunakan keahlian saya dan membangun sebuah sekolah." Saya tak kan bandingkan dengan orang lain, tapi justru berkaca pada diri sendiri yang bahkan sampai lulus kuliah ga-tau-mau-ngapain (tau sih, tapi hanya cita-cita yang gak kepikiran dalem dan standar. Yang pasti saat itu visinya kurang puguh. Bahkan sampai sekarang belum terumuskan dengan jelas visinya).

Balik lagi ke cerita Francis, begitu lulus menjadi arsitek, dia segera kembali ke daerahnya dan kemudian dia menawarkan ide baru untuk membangun dengan TANAH LIAT dengan inovasi menggunakan lumpur. Kerja keras Francis selanjutnya adalah proses meyakinkan banyak orang di kampungnya, karena belum pernah ada yang melakukan hal tersebut sebelumnya. Itu pasti proses yang tidak mudah! Untungnya di kampung tersebut masih ada semangat gotong royong sehingga setelah banyak orang merasa yakin, aktivitas selanjutnya adalah proses kerja  bersama berbagai lapisan masyarakat dengan memanfaatkan berbagai potensi keahlian yang telah ada.

Hasilnya bangunan yang modelnya seperti gambar di atas. Hasil sampingannya juga banyak. Berbagai penghargaan sudah pasti diraih oleh Francis dan sebetulnya penghargaan tersebut (kalau menurut saya) merupakan penghargaan yang diraih oleh hasil kerjasama masyarakat Gando (nama kampungnya). Hasil sampingan lainnya, simak di video saja secara lengkap.

Kembali saya bilang: yang penting bukan di produk akhirnya, tapi justru di proses inovasinya dan kemampuan Francis untuk mengorganisir warganya.

Francis: anak kecil dari Burkina Faso yang kemudian menjelma menjadi penggerak masyarakat dengan niat tulus untuk membangun komunitasnya!

*tulisan ini dibuat berdasarkan info yang sapotong-sapotong karena keterbatasan waktu untuk cari info lengkapnya dan juga keterbatasan untuk ngerti bahasa inggris yang baik dan benar :)


Sunday, 19 January 2014

Hari 14: Martabak #ZeroWaste !


Dari kemarin cerita tentang makanan terus hehehehhe.
Gapapa lah ya.

Untuk menghasilkan transaksi martabak yang #ZeroWaste, bisa dilakukan berbagai cara:
1) kalau gak bawa misting, wayahna kita menghasilkan sampah kardus. Minimal kita bisa minta si mamang penjualnya untuk tidak memakai plastik alas di dalam kardus tersebut.


2) Minta supaya mamang martabak tidak terlalu baik hati dengan memberikan acar dan sambel.



Acar kita skip dulu lah. Baiknya kita punya sambel botolan di rumah, sehingga kenyamanan makan martabak bersambel bisa tetap berjalan tanpa sampah plastik sachet yang kecil-kecil.


Intermezo dulu liat mamang yang lagi goreng martabak


Dan ini yang hampir jadi!


3) Segera sodorkan tas kain, sebagai pengganti kresek, sebelum si mamang otomatis membungkusnya dengan keresek. Contohnya bisa yang bikin sendiri seperti ini


atau bisa juga bawa kresek bekas yang ada di rumah atau bawa tas kain bentuk lainnya. Prinsipnya: kita tidak menggunakan kresek baru.

4) Skenario yang lebih gak nyampah, pakailah misting untuk membeli martabak! Bisa juga rantang. Apapun yang bisa dipakai ulang dan ada di rumah!
Contohnya sebagai berikut:



5) Bila terlanjut ada sampah dus martabak seperti ini



Maka, pisahkan sampah ini dari awal dan dibuka lipatannya untuk mengecilkan volume sampah.


Ok, selamat makan martabak yang #ZeroWaste :)

Hari 13: "Pura-pura" #ZeroWaste !

Ada yang senang minum teh? Apa merk spesifik teh favoritmu?

Saya punya temen yang sangat suka minuman teh kotak.
Disebut merknya secara spesifik karena memang  dia sukanya itu. 

Ini dia orangnya :) 

Dea, Nadya (anak), Nenden (istri) (ki-ka)

Ada sebuah cerita unik beberapa tahun yang lalu tentang Dea dan teh kotak. 

Ceritanya adalah: 
Si Dea beberapa kali terlihat membawa bekal teh kotak ke kegiatan YPBB. 
Kurang lebih yang seperti ini penampakannya:


Kemasan teh kotak ini, masih jarang yang mendaur ulang. Karena prosesnya cukup rumit dan biayanya cenderung mahal. Mengapa demikian? Karena kemasannya (yang biasa disebut sebagai kemasan aseptik) terdiri dari 6 lapisan yang bahan dasarnya berbeda-beda.




Lanjutan ceritanya adalah (mungkin) karena: 
  • Dea mulai mengenal isu #ZeroWaste, yang mana prinsip dasarnya adalah mengurangi sebanyak mungkin sampah-sampah yang sulit didaur ulang dan menggunakan sebanyak mungkin bahan yang bisa dipakai ulang 
  • Ada proses reminder oleh teman-teman YPBB lain tentang pentingnya pengurangan kemasan tersebut 
  • Dea tahu area YPBB dan juga lingkar gaul YPBB berisi orang-orang yang sama-sama ingin berubah menjadi lebih #ZeroWaste
Maka, pada suatu hari dia membawa bekal teh manis menggunakan tumbler. Si tumblernya nyempul di sudut tasnya dan itu langsung menarik perhatian mata saya. 

Si saya otomatis langsung memuji "kemajuan" yang sudah terjadi. Karena selama ini Dea bilang bahwa, "Rasa teh kotak itu berbeda bila dibanding dengan teh yang diaduk dan diseduh sendiri. Lebih enak". 

Dan ternyataaaaa. Wek wewwwwwww....
Dengan polosnya dia bilang (kurang lebih, karena saya juga sudah lupa saking lamanya kejadian ini): "Sebenarnya ini tetap teh kotak. Dari 2 kemasan teh kotak, kemudian dimasukkan ke dalam tumbler. Minimal supaya tidak membawa sampah ke acara YPBB."

Hahahhaah, padahal udah muji tea asalnya. 
Inilah peristiwa yang saya juduli sebagai "Pura-pura" #ZeroWaste !
Ini bukan kejahatan! Justru tahap ini menjadi tahap yang penting dalam perubahan perilaku. 

Berawal dari: 
  • mulai sadar akan adanya masalah di sekitar (dalam hal ini isu sulitnya proses mendaur ulang kemasan aseptik dan lebih baik menguranginya dari awal)
  • namun kemudian belum tahu solusi untuk menggantikan "kenikmatan" nyampah (dalam hal ini, yang dinikmati adalah isi dari teh kotak dan konsekuensinya ada kemasan aseptik yang entah perlu diapakan)
  • tapi kemudian muncul akal untuk, "Minimal saya berusaha mulai mengurangi sampah di acara yang orang-orangnya punya kepedulian terhadap isu, tanpa mengurangi tingkat kenyamanan saya"
Kesimpulan pada kasus Dea dan teh kotak ini: sebenarnya kesadaran sudah mulai muncul. Kesadaran akan adanya masalah. Namun Dea (saat itu, mungkin sekarang sih sudah insyaf karena sudah menemukan substitusi dari kenyamanan mengkonsumsi teh kotak ) sedang mensugesti dirinya untuk mulai mengurangi sampah, minimal saat datang ke acara-acara yang mempertemukan dirinya dengan orang-orang yang peduli akan isu sampah. 

Dan biasanya sih (dari pengalaman saya dan juga beberapa teman lainnya), lama-lama tahap "Pura-pura" #ZeroWaste akan berubah menjadi tahap "Benar-benar" #ZeroWaste seiring dengan berjalannya waktu dan juga seiring dengan proses pencarian pola yang paling cocok untuk berproses. 

Hampura Dea yang dijadikan contoh kasus "Pura-pura" #ZeroWaste ini, sesungguhnya saya pun dulu pernah mengalami tahap yang sama, "Jangan bawa ini itu ah ke YPBB, nanti suka dibilangin macem-macem"

Masihkah anda berada pada tahap "Pura-pura" #ZeroWaste ? Yuk bareng-bareng untuk meningkatkan level ke-ZeroWaste-an kita :) 




Thursday, 16 January 2014

Hari 12: Level-level #ZeroWaste

Untuk mencapai derajat keyakinan bahwa "aku beneran akan mengurangi segala potensi sampah dari aktivitas sehari-hari", biasanya ada beberapa level yang perlu dilalui.

Level 1: mendapatkan AHA
Mendapatkan AHA: saat mendapatkan titik terang tentang masalah sampah dan kemudian tersadarkan bahwa masalah sampah yang menggila tersebut, ternyata disebabkan juga oleh diri sendiri, dari aktivitas sehari-hari.

Level 2: merasa gelisah
Saat sudah mengetahui fakta pada tingkatan AHA, mulailah pikiran resah dan gelisah. Masuk supermarket, mulai terasa sedikit barang yang "aman" dari sampah. Mau beli ini salah, beli itu salah. Gak dibeli pun, susah nemu solusi.

Level 3: aktif mencari informasi
Untuk mengatasi kegelisahan di tingkat no 2, biasanya orang tersebut akan mencari cara untuk bisa keluar dari lingkar kegelisahannya. Mulai dari googling, tanya-tanya ke pihak yang kompeten, melakukan kunjungan kepada teman/komunitas yang sudah berhasil mengelola sampahnya dll.

Level 4: "aku akan mencoba mulai mengubah gaya hidup"
Pada tahap ini, dengan bekal tekad dan pengetahuan yang ada, berbagai eksperimen akan mulai dilakukan, berbagai tips gaya hidup zero waste akan dicoba. Di tahap ini, rasa bahagia saat berhasil mengubah gaya hidup tumbuh dan kadang terselip rasa frustasi ketika ada hal tertentu yang buntu dan belum ketemu solusinya.

Level 5: "bersama pasti bisa"
Tahu, sadar, semangat untuk berbuat dan mulai berbuat, ternyata tidak cukup. Semangat untuk ber #ZeroWaste itu turun naik. Nah, kondisi turun naik bisa dibuat tetap stabil dan bahkan grafiknya bisa naik terus bila ada proses saling mendukung diantara orang-orang yang sama-sama sedang berubah menuju #ZeroWaste.

Level 6: Kampanye-kampanye!
Aktivitas menyebarkan semangat untuk ber #ZeroWaste, bisa ada di tiap level. Rasanya gak tahan untuk mempengaruhi dan mengajak orang di sekitar untuk sama-sama barengan #ZeroWaste juga. Orang-orang yang sedang berada pada level ini bisa bergerak sendirian ataupun berkampanye bersama-sama. Tapi semangatnya sama yaitu: ingin gaya hidup #ZeroWaste diterapkan oleh sebanyak mungkin orang di dunia ini! Yeay!

Oiya, karena level-level ini ngarang dan berdasarkan pengalaman sendiri dan juga pengalaman beberapa teman, kemungkinan level-level ini bisa saling bertukar posisinya dan juga bisa saja ada variasi level lainnya.

Nah, masuk level manakah kamu?


Hari 11: Roti #ZeroWaste ! Bisa!

Siapa suka makan rotiiiii?
Sebagian besar roti yang beredar di pasaran terbuat dari tepung terigu.
Dan terigu itu bahan dasarnya apa anak-anakkkkk?
Ya betul! Dari gandum.
Dan gandum bahkan gak bisa ditanam di Indonesia.
Jadi kesimpulannya: roti bukan makanan lokal.
Ya begitulah faktanya.

Tapi pengen makan rotiiiiii!
Yasudah, mari makan roti yang tanpa sampah yah. Tanpa sampah kemasan plastik dan kemasan lainnya yang hanya sebentar dipegang beberapa menit dan kemudian langsung masuk ke tempat sampah.

Pilihan pertama: BIKIN ROTI SENDIRI di rumah.
Ini bisa banget tanpa kemasan plastik karena langsung "blem" dimakan.
*jadi inget jaman jadi tukang bikin dan dagang roti

Malam ini baru iseng coba-coba beli roti tanpa plastik.
Di tempat belinya tersebut, hukumnya adalah: seluruh roti harus dibungkus.

Pas tadi liat, masih ada roti yang numpuk belum dibungkusin! Langsung timbul ide untuk "ngetes" kemungkinan ber- ZeroWaste di tempat dagang roti tersebut.

Nih rotinya. Nyam-nyam



Kemudian saya minta petugasnya untuk mewadahi roti tersebut ke dalam misting.
Dan dianya langsung bilang: yasudah diplastikin dulu, nanti di kasir dibuka lagi plastiknya.
LOH, sama aja itu sih menghasilkan sampah plastik heheheh.

Akhirnya saya berikan ide untuk: label harga bisa ditempel di luar misting, sehingga diharapkan kasir tidak kebingungan dengan perbedaan yang terjadi.
Dia bingung sepertinya dan akhirnya bilang: "yasudah diwadahi misting, saya mintakan bon dulu yah."

Tiba-tiba dia bawa selembar bon yang sudah ditempeli harga roti tersebut.


Jadi hari ini saya tidak menghasilkan sampah plastik, tapi masih digantikan oleh selembar bon kertas.

Mari kita makan roti #ZeroWaste ! Slamat makan :)